Buang Aja Ke Laut dan Nir-trust Petani Tambak

 Saya bukan orang yang paham dan lama dalam dunia tambak. Namun, pernyataan ganjil yang dilemparkan seorang petani tambak atas pertanyaan “sampahnya dibawa ke mana?” yang dijawab dengan “Buang ke laut saja”, bagi saya, memuat beberapa hal : 1) Minimnya pengetahuan para petani tambak akan keterkaitan antara sampah dan laut; 2) Ketidakpercayaan bahwa apa yang terjadi pada lingkungan akan memengaruhi kehidupan mereka, terlebih dalam mengangkat kehidupan mereka ke arah yang lebih baik. Mengenai mengapa saya mengambil kesimpulan kedua tersebut akan dinarasikan dalam tulisan sederhana ini.

Perjalanan dan pertautan saya akan dunia pertambakan merupakan hal yang baru. Hal ini membuat saya harus terus menggali berbagai hal dan ilmu yang berkutat pada dunia pertambakan ini dengan berbagai pertanyaan. Jika tidak, saya tidak akan mampu menemukan mata rantai keterkaitan antarkejadian.

Lokasi yang menarik perhatian saya ialah Suppa, salah satu kecamatan di kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, dimana terdapat beberapa tambak binaan WWF: Bagaimana intervensi dan kehadiran lembaga ini dalam mensejahterakan petani tambak tambak lokal, bagaimna kesejahteraan petani tambak serta livelihood strategies terutama bagaimana petani tambak tambak mengalokasikan pendapatannya, serta berbagai pertanyaan lainnya. Namun, kali ini tulisan saya tidak akan mengupas berbagai masalah pelik tersebut. Bukan karena saya irit dan pelit dalam membagikan pengalaman saya, tulisan kali ini akan dibuat sesederhana mungkin dalam mengupas tesa yang dibangun oleh petani tambak tambak beberapa waktu yang lalu yang dijumpai penulis.

Sampah, Tambak, Laut

Melihat sampah yang berasal dari laut bukan merupakan hal yang pertama kali bagi saya. Namun, cukup mengejutkan bahwa sampah tersebut bukan hal yang sulit dijumpai bahkan di daerah tambak dan pantai di sekitar tambak. Terlebih, dan yang paling mengejutkan lagi, pernyataan petani tambak yang menyarankan sampah dibuang ke laut saja setelah pertanyaan mengenai sampah saya lontarkan. Memang, bahwa tidak terdapat pengolahan sampah di sekitar areal tambak. Namun pernyataan membuang sampah ke laut alih-alih dibakar (walaupun keduanya memiliki dampak terhadap lingkungan dan pada bagian lain tulisan ini penulis memberikan saran lain) yang lebih tepat di tempat tersebut mengejutkan saya sekaligus menunjukkan bahwa para petani tambak tidak dibekali akan bahayanya sampah plastik. Belum lagi oleh dampak siklikal yang berlangsung yang nanti layak untuk kita diskusikan

            Sampah yang dibuang ke laut tidak hanya akan berdampak pada pendapatan para nelayan. Mengapa? Sampah yang dibuang ke laut ini akan merugikan para nelayan yang mencari ikan di laut, mengingat ikan serta penyu tidak mampu membedakan antara plastik dan ubur-ubur yang menjadi salah satu snack favorit hewan laut. Juga, tidak sedikit hewan laut terjebak oleh sampah-sampah laut. Membludaknya jumlah sampah ini memberikan dampak masif bagi kehidupan ekosistem laut. Ia membunuh ikan-ikan dan penyu sehingga merusak ekosistem dan mata rantai kehidupan laut. Otomatis, masifnya sampah mengurangi populasi total ikan.

Diestimasikan total produksi plastik hingga saaat ini telah mencapai 8,3 milliar ton plastik. Dari total jumlah tersebut, 6,3 milliar ton aatau 90%-nya diduga berakhir sebagai sampah di laut. Sampah ini mencapai di lautan melalui sungai-sungai besar terutama dari negara-negara dunia ketiga. Terlebih, berbagai pulau-pulau yang dihuni oleh manusia serta mengonsumsi produk yang dibungkus oleh plastik. Sehingga, sampah-sampah tersebut sangat memiliki potensi untuk berakhir di lautan.  Demikian pula ketika saya bertanya kepada salah seorang fasilitator, bahwa “Orang dan berbagai sampah dari Pare-Pare pun terdampar di sini”. Walaupun tidak memiliki bukti kuat atas klaim tersebut, saya menduga sampah tersebut berasal dari wilayah yang tidak begitu jauh mengingat arus laut yang tidak begitu kuat membuat sampah tersebut kemungkinan berasalkan dari tempat yang tidak begitu jauh.

Sampah yang terus mengalir ini bukan tidak memungkinkan dapat mengancam pula habitat tambak bagi petani tambak terlebih habitat ikan yang mengancam sumber-sumber nafkah para nelayan yang mencari ikan di laut. Dibuangnya sampah di laut akan mengurangi jumlah ikan akibat ikan dan penyu yang tidak mampu membedakan antara ubur-ubur dan sampah plastik yang beredar di lautan. Berkurangnya jumlah populasi ikan akibat aktivitas tangkap serta populasi ikan yang mati akibat plastik turut mengurangi reproduksi ikan di lautan otomatis mengurangi jumlah ikan tangkap di masa mendatang dan mampu mengancam sumber-sumber nafkah nelayan. Ketika ini terjadi, ia dapat berimplikasi pada beberapa hal, terdesaknya nelayan penangkap ikan di laut yang semakin kurang jumlah tangkapannya yang akan beralih ke petani tambak di tengah jumlah lahan yang terbatas sehingga menciptakan kerentanan konflik sosial ke depannya antara nelayan laut dan petani tambak. Serta membludaknya jumlah plankton akibat menurunnya jumlah populasi ikan yang dapat mengganggu keseimbangan ekositem laut. Lebih jauh, membludaknya plankton juga berdampak pada semakin membludaknya jumlah alga. Alga yang semakin besar jumlahnya ini dapat mengurangi jumlah cahaya yang masuk dalam perairan sehingga berpengaruh terhadap kesehatan ekosistem laut seperti berkurangnya 02 yang mengancam populasi terumbu karang dan ikan di laut.

Kedua dampak tersebut saya kira merupakan bayangan yang buruk. Memang hal tersebut merupakan proses yang cukup panjang. Namun mencegah hal tersebut terjadi jauh lebih baik dibanding mengalami pengalaman yang buruk.

Sampah plastik yang ditemukan di sekitar tambak. Terlihat seperi telah terdampar di lokasi begitu lama hingga ditumbuhi organisme tertentu.

Mengapa Siklikal?

            Dibuangnya sampah ke laut merupakan tindakan yang apatis dan dapat berdampak siklikal. Mengapa demikian? Setiap orang yang berpikiran bahwa semua orang melakukannya juga berdampak pada orang yang belum melakukannya hingga ia kemudian turut berpartisipasi terhadap sampah yang berakhir di laut. Berbagai aktivitas tersebut berdampak pada sampah yang berakhir di lautan yang kini jumlahnya sangat besar yang merupakan runtut dari aksi kolektif yang apatis dari masyarakat. Para ilmuwan memiliki sebutan tersendiri bagi sampah ini, ia dikenal sebagai “Great Pacific Garbage Patch”.

Tentu, perilaku saling tidak peduliinilah yang disebut menjadi siklikal ketika satu dan yang lain saling tidak peduli terhadap aktivitas yang ia lakukan dan berakhir pada dirugikannya lingkungan itu sendiri.

Sampah Mengancam Habitat Ikan

            Padahal, jamak diketahui bahwa hewan yang berasal dari tambak ini baik ikan maupun udang merupakan sumber protein dan gizi bagi manusia. Bahkan, FAO dan World Economic Forum mengklaim bahwa sektor pertambakan merupakan masa depan industri makanan yang mampu menjamin ketersediaan pangan di masa mendatang. Dengan berbagai variabel yang mampu dikontrol serta sektor perikanan tangkap laut yang produktivitasnya terus menurun, sektor pertambakan menjadi salah satu ujung tombak penyedia sumber pangan dunia. Hal tersebut diakibatkan oleh mampu dikontrolnya berbagai variabel dalam sektor pertambakan yang membuat jumlah produksinya terus meningkat dibandingkan sektor perikanan tangkap laut.

            Meningkatnya jumlah populasi manusia sedangkan jumlah populasi ikan di laut yang tidak meningkat baik akibat over-eksploitasi serta akibat masalah persampahan menciptakan keterbatasan reproduksi ikan. Sehingga, produksi ikan dari sektor pertambakan yang terus meningkat patut dan sangat potensial untuk digenjotmanfaatkan. Berbagai komoditas pertambakan termasuk ikan dan udang merupakan sumber vitamin dan protein yang jauh lebih baik dibandingkan hewan yang lain. Sehingga, ikan seharusnya menjadi sumber pangan wajib yang tersaji di meja makan tiap murah. Selain murah, ia merupakan makanan yang sangat bergizi.

            Di sisi lain, sampah menjadi ancaman bagi dunia perikanan. Bagi masyarakat perkotaan, sampah menjadi masalah tersendiri. Besarnya pola konsumsi yang tidak ramah lingkungan membuat sampah menjadi masalah yang seharusnya ditangani secara khusus. Walaupun telah terdapat beberapa usaha sederhana pada tempat pembuangan sampah di beberapa fasilitas umum seperti pemilahan sampah plastik dan sampah basah, ia tidak diiringi dengan usaha serius oleh pemerintah setempat dalam mengolah sampah plastik yang pada akhirnya tetap berakhir di TPA. Sampah botol plastik memang banyak dimanfaatkan oleh berbagai kalangan untuk dijual. Namun sampah plastik lainnya seperti kemasan snack, plastik keras bekas kemasan makanan rantangan, plastik belanja gagal dimanfaatkan sehingga banyak berakhir di saluran air/pembuangan, sungai, pantai dan laut. Berbagai kegiatan yang tidak memedulikan lingkungan seperti aktivitas turisme diduga turut memperparah masalah persampahan.

Di Indonesia sendiri, pengamat lingkungan, M Bijaksana Juneserano, mengungkapkan bahwa  masyarakat Indonesia rata – rata “memproduksi” sampah sebesar 2.5 kilogram per hari (http://www.mongabay.co.id/2016/07/15/rata-rata-masyarakat-kota-nyampah-25-kg-setiap-hari/). Kota Makassar sendiri memproduksi sampah sekitar 700 ton hingga 800 ton per harinya. Jumlah ini meningkat drastis dibanding sebelumnya (http://regional.liputan6.com/read/2440317/produksi-sampah-makassar-melonjak-100-daya-tampung-tpa-minim). Sempat ada wacana mengenai pengelolaan sampah di Kota Makassar menjadi sumber listrik namun tidak pernah ada kesepakatan antara perusahaan yang sempat melakukan inspeksi dan pemerintah setempat.

Di negara-negara Nordik, seperti Swedia dan negara-negara sekitar, membakar sampah menjadi salah satu bisnis yang menarik (https://www.pri.org/stories/2012-06-26/sweden-imports-waste-european-neighbors-fuel-waste-energy-program). Membakar sampah menjadi salah satu komoditas bisnis yang dapat dijadikan sebagai alat penghangat ruangan. Sehingga, selain membersihkan lingkungan dari berbagai masalah persampahan, ia juga menghemat penggunaan energi lainnya yang berpotensi merusak dan mengancam alam baik dalam pengeksploitasian maupun penggunaannya.

Mangrove sebagai Langkah Awal dan Recycling sebagai Langkah Berikutnya

            Mangrove diharapkan mampu tidak hanya menjadi buffer bagi sektor perikanan tambak dalam mereduksi berbagai efek polusi serta limbah yang mampu memengaruhi produktivitas pertambakan, namun juga mendorong produktivitas sektor perikanan tambak. Kehadiran tambak memperkaya ekosistem di sekitar tambak sehingga menambah daya dukung tambak. Hal tersebut akibat air yang pasang dapat menambah berbagai zat yang baik bagi tambak, terkadang dan tak jarang membawa sel telur yang menambah keanekaragaman tambak, mengurangi suhu udara di sekitar tambak sehingga membuat suhu air tambak menjadi lebih ramah dan baik bagi komoditas di dalamnya, juga dapat mereduksi polusi dan limbah yang dapat membahayakan bagi komoditas yang terdapat di tambak. Hal ini juga dibuktikan oleh berbagai hasil produksi tambak yang lebih melimpah dan memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dari areal tambak yang tidak memiliki mangrove di sekitarnya.

            Namun, bukannya masalah yang menghampiri dunia pertambakan menjadi berhenti. Ancaman sampah yang terus menghampiri tambak terus mengalir. Sampah kiriman ketika air pasang menjebak sampah di areal mangrove dan mengancam kesehatan ekosistem di areal mangrove. Berbagai usaha sebenarnya telah dilakukan. Misalnya, di salah satu kabupaten sampah plastik (terutama botol dan kemasan air mineral) dikumpul dan dijual. Surabaya sebagai tujuan akhir. Namun, ada upaya yang mungkin dapat lebih menarik insentif para petani tambak dan nelayan yang hampir tiap hari menemui sampah plastik ini. Penemuan alat yang mampu mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar saya pikir harus dimanfaatkan oleh pemerintah setempat sebagai insentif untuk mengelolah sampah dan mereduksi sampah yang dapat mengancam ekosistem laut. Harga sampah plastik per kilogramnya yang tadinya hanya sekitar Rp.1000,- hingga Rp.2000,- per kilogramnya mampu menanjak setara dengan harga bahan bakar yang setara Rp.5.500,- hingga Rp.6.500,-. Selain pemerintah tidak mengeluarkan biaya yang ekstra untuk membersihkan sampah, saya kira, ia juga mendorong berbagai pihak untuk memanfaatkan kesempatan ini.

 

Andi Muhammad Dzavir

No Response

Leave a reply "Buang Aja Ke Laut dan Nir-trust Petani Tambak"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.