Dilema Petambak Rumput Laut Saat Musim Hujan

Musim hujan telah melanda sejak bulan november 2017, intensitas hujan selama beberapa bulan semakin meningkat hingga mencapai puncak tertinggi saat bulan januari 2018. Hal ini menjadi salah satu dilema yang dialami petambak karena tingginya intensitas hujan, menyebabkan semakin meningkatnya volume air di area pertambakan. Terutama pada daerah-daerah yang dekat dengan sungai yang biasanya mengalami sedimentasi saat musim hujan. Sehingga volume air tawar yang masuk ke dalam tambak semakin tinggi,  menyebabkan terjadinya penurunan salinitas hingga mencapai 0 ppt (past per thousand). selain hal tersebut suhu air juga mengalami penurunan yang drastis serta terjadinya peningkatan pH air sehingga akumulasi dari penurunan kondisi kualitas air membuat kualitas rumput laut turut menurun.

Rumput laut yang rusak akibat kondisi air yang buruk.

Penurunan kualitas pada rumput laut diamati dari penampakan morfologi Gracillaria yang memiliki thallus yang kecil, kurus dan tampak keriting. Musim hujan juga menyebabkan terhalangnya proses fotosintesis karena kurangnya cahaya sehingga pertumbuhan rumput laut tampak stagnant sehingga mengurangi produktivitas rumput laut yang dapat diperoleh oleh petambak rumput laut. Masalah lain yang dirasakan oleh petambak adalah susahnya proses panen dan pasca panen akibat kurangnya intensitas cahaya materi saat musim hujan. Hal ini membuat petambak hanya dapat memanen Gracillaria saat perkiraan cuaca dalam kondisi terik, meskipun gracillaria telah mencapai umur panen. Beberapa petambak bahkan banyak yang mengalami kegagalan panen akibat buruknya kualitas rumput laut yang terkena hujan saat pengeringan sehingga membuat menurunnya harga beli rumput laut menjadi setengah harga beli dari kualitas rumput laut kering karena terhitung sebagai barang kualitas rendah.

Hal ini membuat beberapa petambak harus pintar-pintar memperkirakan kapan waktu yang tepat untuk panen dan pasca panen di saat musim hujan. Meskipun seringkali perkiraan mereka meleset dan membuat penurunan produktivitas hasil panen akibat rendahnya harga jual rumput laut. Padahal di satu sisi petambak Gracillaria membutuhkan uang untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka serta untuk mencukupi kebutuhan pendidikan dan lainnya untuk dapat bertahan hidup.

Terutama saat ini belum ada metode atau teknologi terbaru yang disiapkan pemerintah maupun pihak swasta untuk dapat digunakan petambak rumput laut dalam menghadapi permasalahn yang mereka peroleh selama musim hujan. Seandainya suplay teknologi dan metode yang dapat diterapkan mungkin dapat membantu petambak gracillaria dalam menghadapi masalah-maslah tersebut meskipun hanya dalam kisaran meminimalisir masalah yang dihadapi.

 

rumput laut yang kualitasnya menurun akibat penurunan kualitas air.

Sebagai contoh mungkin dengan teknologi sistem panen dengan menggunakan green house atau plastik UV setidaknya dapat membantu masyarakat dalam meminimalisir semakin dropnya hasil panen rumput laut disaat musim hujan. Namun, terbatasnya dana dan kurangnya pegetahuan petambak membuat mereka tidak dapat menerapkan teknologi atau metode inovasi terutama dalam perbaikan sistem panen dan pasca panen. Sehingga perlu adanya kerjasama antara pihak pemerintah, pihak swasta dan petambak untuk saling mendukung dan bekerjasama demi perbaikan produkstivitas dan kualitas rumput laut Gracillaria kedepannya terutama disaat musim paceklik dan musim hujan.

Amriana, Fasilitator Kelompok Samaturu (binaan WWF-ID dan CSG)

No Response

Leave a reply "Dilema Petambak Rumput Laut Saat Musim Hujan"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.