Terombang – Ambing

No comment 207 views

Mengamat – amati kondisi petambak udang pada bulan-bulan terakhir, kita seperti diseret ke dunia tak ada ujung. Ketidakpastian menjadi habitat mereka, kecemasan sudah menjadi kandungan sehari – hari.

Pengeluaran dihitungnya lembar demi lembar, jumlah benur yang ditebar, dimana harga benur semakin lama semakin naik, jumlah pupuk yang dihanyutkan, menjadi beban. Sementara hasil panen tak menunjukkan gelagat. Kenangan akan hasil panen sebelum – sebelumnya pun hanyalah obat sesaat.

Bagaimana tidak, udang vannamei/vaname dalam tambaknya tampak kerdil, pertumbuhan lambat, bahkan dalam beberapa minggu saja sudah lenyap dan terkubur. Hujan sedikit saja, udang sudah teler. Lalu petambak pun ikut – ikutan teler.

Belum lagi, harga udang vaname yang jatuh seperti jatuhnya Adam ke bumi. Begitu telanjang. Harga, di luar jangkauan kuasa petambak. Apalagi petambak kecil yang mengharapkan satu – satunya hasil panen tambak. Mencurahkan waktu, merawat, mengasihi benih – benih udang melebihi kasih terhadap diri sendiri.

Asumsi – asumsi pun muncul. Apa gerangan yang terjadi? Kenapa dalam tempo yang landai, kualitas udang begitu seret?

Asumsi yang tampak adalah menurunnya kualitas benur. Permintaan akan benur sangat banyak, sementara pasokan benur terbatas. Pelaku benur tidak begitu bertambah dari beberapa tahun terakhir. Karena itu, pelaku bisa saja menurunkan standar perawatan benur, sehingga berpengaruh pada kualitas benur. Banyak kejadian, benur mati tak lama setelah benur di beli. Selain itu, benur – benur kualitas bagus biasanya sudah dimonopoli oleh pembeli partai besar, yang juga memiliki tambak – tambak intensif dan super intensif.

Sedangkan petambak – petambak kecil antri di belakang, menunggu benur dari para penggelondong, yang juga tak begitu baik dalam merawat benurnya. Nah, di tingkat penggelondong, petambak berebutan benur. Usia benur tidak lagi dihiraukan, lantaran cemas tak memperoleh benur karena sudah habis diambil petambak lain. Banyak juga diantara mereka yang harus menunggu lama untuk dapat mengisi tambaknya dengan benur.

Udang vaname hasil budidaya di tambak Suppa, Pinrang. Hingga saat ini banyak petambak yang mengalami penurunan produksi sejak pertama kali diintroduksi di Suppa.

Lalu, akibat tekanan ekonomi yang berlarut – larut, banyak diantara mereka yang ingin kembali ke budidaya udang windu. Katanya udang windu tak serumit udang vannamei. Waktu luang lebih banyak, mereka tak begitu capek. Namun, lagi – lagi, begitu susahnya menemukan benur windu di desa – desa pesisir. Pilihan – pilihan terbatas. Dengan begitu kemerdekaan pun seakan – akan terampas.

Memang, banyak hal lain yang dapat dilakoni petambak selain berkutat dengan udang. Tapi, apakah segampang itu mereka melepas sebuah kerja praktis, yang sudah demikian lama mereka bergantung hidup?

Untuk itu, kerja kerja praktis di lapangan sangat dibutuhkan. Utamanya anak – anak muda, yang begitu diharap kreasi dan kontribusinya. Banyak hal bisa kita lakukan, seperti, menjadi pengumpul/perantara solutif, membeli udang dengan harga yang layak dan membayar cash atau langsung. Menjadi pengumpul dapat berarti menambah persaingan bagi pengusaha, yang tentu dapat meningkatkan harga dasar. Atau, yang lebih progresif lagi, menciptakan sistem pembelian yang langsung menghubungkan petambak dengan konsumen akhir, membina petambak untuk menjadi pengumpul bagi dirinya sendiri, dengan sistem yang efisien melakukan pengiriman secara mandiri ke kota kota besar. Hal ini membuka ceruk untuk menciptakan sistem pengantaran via online dari petambak langsung ke pembeli.

Hal lain yang dapat dilakukan yaitu dengan mencoba untuk bertambak sendiri, dengan konsep budidaya polikultur dan memanfaatkan teknologi terapan yang sederhana. Khususnya bagi teman – teman jurusan perikanan, dapat menerapkan ilmu – ilmu yang telah diperoleh di kampus, seperti pemanfaatan tandon air, probiotik, pembuatan pakan mandiri. Saya yakin, dengan bergulat terus menerus di dunia pertambakan, kita akan menemukan masalah dan akhirnya menemukan solusi praktisnya. Jika bisa, ada yang terjun di dunia pembibitan. Ketersediaan kuantitas benur, sebagai dasar untuk menuju kualitas benur yang baik dan merata.

Tampak rumit memang, tapi harus ada sesuatu yang dilakukan. Tindakan yang sepele pun barangkali berarti bagi mereka. Apalagi ketika kita rame-rame membicarakan, dan bekerja untuk mengatasinya.

 

Idham Malik.

(Telah dipublikasikan di akun Facebook pribadi penulis pada 29 Mei 2018)

 

 

No Response

Leave a reply "Terombang – Ambing"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.