IMTA (Integrated Multi Trophic Aquaculture), Solusi Pengembangan Budidaya Terintegrasi Prospektif yang Ramah Lingkungan

Konsep Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA), proposed by Fisheries and Oceans Canada (http://www.dfo-mpo.gc.ca/aquaculture/sci-res/imta-amti/index-eng.htm)

Konsep Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA), proposed by Fisheries and Oceans Canada (http://www.dfo-mpo.gc.ca/aquaculture/sci-res/imta-amti/index-eng.htm)

Bertambahnya penduduk dunia memberikan konsekuensi meningkatnya kebutuhan pangan dan kesadaran manusia akan kesehatan yang lebih memilih konsumsi ikan telah meningkatkan peran penting akuakultur. Akuakultur merupakan pilihan utama untuk meningkatkan produksi ikan dan krustase dikarenakan produksi dunia dari hasil tangkapan sudah tidak mencukupi lagi. Indonesia yang memiliki lahan budidaya yang luas untuk akuakultur air tawar, air payau maupun air laut berpotensi menjadi negara penghasil akuakultur terkemuka di dunia terutama dengan dukungan ilmu pengetahuan dan tehnologi.

Oleh karena itu akuakultur saat ini telah menjadi industri primadona yang menjanjikan, bila dikelola dengan baik akan memberi pemasukan devisa yang tidak kecil. Akan tetapi industri akuakultur di Indonesia dewasa ini masih belum optimal menyangga pemasukan devisa negara. Hal ini dikarena banyak kendala mulai dari kualitas SDM yang kurang memadai, teknologi yang digunakan, penanganan pasca panen, dll. Apalagi dalam perdagangan bebas AFTA 2003 dimana dalam perdagangan global yang sangat kompetitif dengan berbagai isu global perdagangan hasil perikanan seperti isu “food safety”, lingkungan dan sanitasi menjadi tantangan dan peluang bagi insan akuakultur Indonesia (UNDIP, 2002).

Sektor Kelautan dan Perikanan adalah salah satu sektor yang relevan untuk digunakan sebagai subjek kajian mengingat peran dan kontribusinya dalam perekonomian yang sangat patut untuk diperhitungkan. Perikanan, termasuk sumber daya terbarukan, menjalankan fungsi sebagai pemasok makanan, sektor yang memberikan masukan bagi industri pengolahan ikan, sumber lapangan pekerjaan, tujuan penanaman modal, dan sumber devisa. Panjang pantai yang mencapai 95.181 km (World Resources Institute, 1998 dalam Sucofindo, 2011) dan luas samudera yang mencapai 5,4 juta km2 menempatkan Indonesia sebagai negara dengan sumber daya kelautan terbesar, termasuk sumber daya keanekaragaman hayati dan non-keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, bukanlah suatu hal yang berlebihan apabila Kementerian Kelautan dan Perikanan membuat visi “Indonesia sebagai Penghasil Produk Kelautan dan Perikanan Terbesar Tahun 2015”, yang kemudian diuraikan dalam kebijakan dan program. Salah satu program untuk mendukung perwujudan visi tersebut adalah program untuk meningkatkan Produksi Perikanan Akuakultur. Daerah yang luas (perairan di darat dan perairan pantai) di Indonesia yang mencapai 3,1 juta km2 merupakan potensi lahan perikanan akuakultur yang besar yang belum sepenuhnya tereksplorasi dan oleh karena itu, hal tersebut menjadi fokus kajian untuk pengembangan sumber daya perikanan di masa mendatang.

Indonesia diperkirakan memiliki potensi perairan laut seluas 8,4 juta ha untuk budidaya perikanan laut, dengan 3,8 juta ha merupakan potensi efektif yang dapat dimanfaatkan untuk kawasan budidaya laut, yang terdiri atas 775 ribu ha untuk pengembangan keramba jaring apung ikan, lobster, abalone (Gastropoda besar yang termasuk genus Haliotis); 37,2 ribu ha untuk pengembangan keramba jaring tancap ikan; 769,5 ribu ha untuk pengembangan budidaya rumput laut; 4,7 juta ha untuk budidaya kerang-kerangan; 174,6 ribu ha untuk pengembangan budidaya teripang dan 1,9 juta ha untuk pengembangan budidaya tiram mutiara (DKP, 2005).

Masalah yang kemudian muncul dalam budidaya yaitu terjadinya penurunan kualitas air pada media budidaya yang disebabkan meningkatnya produk metabolit dari limbah buangan organisme budidaya. Pada budidaya dengan sistem air tergenang, peningkatan kepadatan ikan dan pakan tambahan merupakan masalah yang membatasi produksi budidaya. Meningkatnya hasil buangan metabolisme ikan akhirnya dapat meningkatkan amoniak dalam air. Amoniak merupakan salah satu bentuk N-organik yang berbahaya bagi ikan (Ratannanda, 2011).

IMTA adalah salah satu bentuk dari budidaya Laut dengan memanfaatkan penyediaan pelayanan ekosistem oleh organisme trofik rendah (seperti kerang dan rumput laut) yang disesuaikan sebagai mitigasi terhadap limbah dari organisme tingkat trofik tinggi (seperti ikan) (White, 2007 dalam Jianguang et al, 2009, dalam Wibisono, 2011). IMTA berbeda dengan polikultur karena polikultur adalah membudidayakan lebih dari satu spesies tanpa memperhatikan kegunaan spesies dalam ekosistem, sedangkan IMTA menitikberatkan pada kemampuan spesies dalam menjaga keseimbangan ekosistem sehingga setiap spesies tertentu memiliki fungsi yang berbeda misalnya sebagai karnivore, herbivore, detritus dan filter feeder (penyerap partikel) sehingga keseimbangan ekosistem mampu terjaga dengan baik. IMTA dapat digunakan hampir seluruh wadah budidaya baik laut maupun darat karena konsep keseimbangan ekosistem yang diterapkan         (Wibisono, 2011).

Keunggulan sistem IMTA dapat diketahui berdasarkan ekonomi, lingkungan dan keamanan pangan bagi organisme budidaya dan manusia. Pemanfaatan IMTA di China memberikan keuntungan ekonomi yang diaplikasikan di provinsi Qingdao selama 2 tahun menghasilkan 900 kg dengan hasil sebesar 70.000 yuan/ 1600 m2 atau 10.000 US dolar/ 1600 m2 sehingga budidaya dengan IMTA sangat menguntungkan karena diversifikasi produknya sangat banyak dan bernilai ekonomis tinggi (Jinguang et al, 2009 dalam Wibisono, 2011). Keuntungan ekonomi dari IMTA di kanada memiliki keuntungan yang jauh lebih untung dibandingkan dengan sistem monokultur pada ikan salmon (Ridler et al, 2007 dalam Wibisono, 2011). Dampak IMTA di China terhadap lingkungan dapat dilihat pada tabel 2 dibawah dan IMTA secara tidak langsung mengurangi perubahan iklim global dengan mereduksi 1,37 juta MT karbon dan 96.000 MT Nitrogen pada budidaya rumput laut dan kerang pada tahun 2006 (Jinguang et al, 2009 dalam Wibisono, 2011). Keamanan pangan secara global mampu terpenuhi 15 juta MT hasil laut terhadap manusia (Jinguang et al, 2009) dan penerapan IMTA dapat mereduksi kemungkinan penyebaran penyakit dan penularannya baik yang disebabkan oleh bakteri maupun virus dengan budidaya kerang (Mytilus edelis) terhadap ikan salmon di Subtropis (Pietrack et al, 2009 dalam Wibisono, 2011).

Potensi dalam pengembangan IMTA di Indonesia dapat diterapkan melalui sistem Keramba Jaring Apung (KJA) ataupun Keramba Jaring Tancap (KJT) yang telah banyak diterapkan di Indonesia. Sistem ini dapat dimodifikasi dengan melakukan pendayagunaan berbagai organisme dalam suatu ekosistem, ekosistem yang digunakan merupakan ekosistem alamiah ataupun habitat asli dari organisme tersebut. IMTA di Indonesia sangat tepat dilaksanakan pada daerah pesisir atau karang karena daerah tersebut merupakan wilayah budidaya yang sangat sesuai dengan teknologi budidaya KJA dan KJT. Organisme yang dapat dimanfaatkanpun sangat beragam tergantung wilayah dari kepulauan tersebut misalnya untuk daerah karang terdapat kerapu, kakap merah dan ikan Napoleon, sebagai organisme karnivora atau tingkat trofik level tinggi.

Setiap aktivitas perikanan memberikan limbah, oleh karena itu limbah dapat dimanfaatkan orgnisme lain di sekitar ataupun yang secara alamiah terdapat pada daerah tersebut seperti bulu babi, teripang dan abalone. Kemudian dilakukan pula pemanfaatan dari jenis kerang sebagai trofik level tingkat rendah pemakan atau filter feeder, kerang yang dimanfaatkan tidak hanya kerang yang dapat dikonsumsi melainkan kerang mutiara yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Sedangkan limbah dalam bentuk inorganik dapat dimanfaatkan dalam bentuk nutrisi oleh rumput Laut dengan metode longine ataupun metode rakit yang sesuai dengan karakteristik. Keadaan umum Indonesia hampir seluruh budidaya baik laut dan tawar secara intensive merupakan monokultur sehingga hal inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan ekosistem alamiah menjadi tercemar, sehingga diharapkan dengan adanya pendekatan berbasis ekosistem melalui IMTA dapat mereduksi limbah yang diproduksi.

IMTA berbasis budidaya laut di Indonesia telah berkembang namun hanya dapat ditemukan secara parsial misalnya masyarakat Cirebon dan Indramayu yang memiliki tambak hanya membudidayakan ikan bandeng dengan rumput laut ataupun ditambah dengan udang galah sebagai pemakan sisa hasil pencernaan seperti feses dan pakan, sedangkan rumput laut selain sebagai sumber oksigen bagi ikan pada siang hari dan mampu memanfaarkan limbah inorganik sebagai nutrient bagi budidaya rumput laut. IMTA yang lebih kompleks dilaksanakan di Bali terutama pada bagian teluk yang memiliki arus yang tenang dan sesuai untuk budiddaya KJA. Sistem IMTA yang diterapkan di Bali menggunkan ikan, rumput laut, oyster pada budidaya KJA dan memberikan hasil yang baik serta optimalisasi dalam pemanfaatan pakan (SeaPlant nett. 2009 dalam Wibisono, 2011).

Secara tidak langsung pendekatan berdasarkan kepada ekosistem telah dilaksanakan dalam berbagai kegiatan budidaya. Penerapan IMTA di Indonesia yang dilaksanakan pada daerah budidaya laut yang memanfaatkan KJA dan KJT sebagai wadah budidaya bagi organisme kultur. Organisme kultur berasal Ekosistem lokal yang terdapat dalam suatu daerah dapat dilaksankan sebagai penyusun dalam sistem IMTA, karena ekosistem lokal memilki adaptasi yang lebih baik dibandingkan dengan organisme introduksi dari luar. Ekosistem lokal perlu dijaga guna menjaga keseimbangan alam, introduksi dari luar akan memberikan pengaruh buruk terhadap kerusakan ekosistem seperti penyebaran penyakit dan pada dasarnya organisme dalam ekosistem laut Indonesia memiliki kemampuan beradaptasi yang baik pada daerahnya. Penerapan IMTA pada gagasan ini dilaksanakan pada perairan karang ataupun Teluk yang memiliki arus yang relative tenang. Organisme yang berasal dari ekosistem lokal yang dimanfaatkan adalah ikan kerapu, kakap dan baronang, karena ketiga ikan ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi serta pembenihan dari ikan karang ini telah diketahui sehingga pasokan benih sebagai unsur budidaya telah terpenuhi. Organisme dalam ekosistem lokal yang bertindak sebagai detritifor adalah bulu babi, teripang dan abalone yang mampu memanfaatkan sisa pakan dan feses pada budidaya KJA dan KJT, karena secara alami ketiga jenis organisme tersebut terdapat di Indonesia terutama abalone yang telah berhasil dibudidayakan di Balai Budidaya Laut, Lombok. Kerang hijau dan kerang darah telah mampu dibudidayakan secara baik hampir diseluruh perairan di Indonesia sehingga dalam pemanfaatanya tidak megalami kesulitan terutama terkait pembenihan, kemampuan kerang sebagai filter feeder dapat memanfaatkan partikel tersuspensi. Tumbuhan laut seperti rumput laut yang mudah dibudidayakan di Indonesia seperti Euchema sp dan Gracilaria sp memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan dapat berguna sebagai penyerap inorganik atau limbah dalam bentuk larutan dalam sistem budidaya sehingga dapat termanfaatkan.

Berdasarkan uraian di atas, pengembangan akuakultur di Indonesia yang begitu potensial dapat dikembangkan dengan berbagai metode. Salah satu metode yang dapat digunakan yaitu metode budidaya terintegrasi. Metode ini memanfaatkan berbagai ciri khas dari kultivan tertentu yang dapat memanfaatkan sisa metabolisme dari kultivan lainnya. Sistem ini memanfaatkan Trophic level yang mengindikasikan budidaya berdasarkan tingkatan piramida tropik.

Budidaya dengan memanfaatkan Trophic level diharapkan mampu menekan masalah limbah budidaya yang dihasilkan oleh komoditas yang dibudidayakan dan juga dapat memicu perkembangan budidaya dari spesies dengan tingkatan tropik rendah namun memiliki potensi nutrisi yang tunggi sehingga dapat meningkatkan hasil budidaya berbagai spesies potensial dan menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar areal budidaya. Selain itu, dengan pengembangan industri budidaya tersebut diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru yang dapat menyerapa tenaga-tenaga kerja, sehingga diharapkan dapat berkontribusi mengurangi angka penggangguran

Referensi:

Raharjo, N. Hastari. 2011.  Studi Pemanfaatan Energi Panas Laut dan Gelombang Laut untuk Sistem Kelistrikan i Kabupaten Karangasem Bali (Tugas Akhir). Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya.

Ratannanda, Ruly, dkk.. Akuakultur Berbasis Trophic Level:Budidaya Ikan Lele dan Ikan Nila dengan Sistem Bejana Berhubungan (Proposal). Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sucofindo, 2011. Laporan Akhir KLHS untuk Lingkungan Hidup. PT. Sucofindo, Jakarta.

Surawijaya, Enang Haris. 2006. Akuakultur Berbasis “Trophic Level”: Revitalisasi untuk Ketahanan Pangan, Daya Saing Ekspor, dan Kelestarian Lingkungan (Orasi Ilmiah). Institut Pertanian Bogor, Bogor.

UNDIP. 2002. Seminar Nasional Bisnis Akuakultur di Indonesia ”Peluang dan Tantangan Bisnis Akuakultur di Era Globalisasi” (Brosur). Universitas Diponegoro, Semarang.

Wibisoso, Rico Wisnu, dkk.. 2011. Pengembangan IMTA (Integrated Multi Trophic Aquaculture) Berbasis Ekosistem Lokal Melalui Peningkatan Produksi Dan Diversifitas Yang Ramah Lingkungan Di Indonesia (Proposal). Institut Pertanian Bogor, Bogor.

No Response

Leave a reply "IMTA (Integrated Multi Trophic Aquaculture), Solusi Pengembangan Budidaya Terintegrasi Prospektif yang Ramah Lingkungan"