Kampus, Mahasiswa dan Petambak

Sejauh ini telah banyak kontribusi kampus terhadap masyarakat petambak. Baik dalam bentuk hasil riset yang berguna bagi mereka, maupun sumbangan sumber daya manusia dalam bentuk jajaran birokrasi yang mengawal kebijakan, peneliti penyuluh perikanan, teknisi tambak-tambak besar, maupun menghasilkan petambak yang dapat menjadi contoh bagi petambak lainnya.

Dalam perjalanannya, usaha perikanan budidaya telah menghidupi warga yang hidup di sepanjang pesisir di hampir semua pulau di Indonesia. Hal ini tidak dapat dipisahkan dari sumbangan stimulan dari kampus. Kampus ibarat bakteri positif yang menstimulan perkembangan plankton yang baik bagi komoditas perairan.

 

Dua orang mahasiswa PKL sedang mendatanig lokasi tambak udang di Suppa (Foto: Zulkarnaen)

Dua orang mahasiswa PKL sedang mendatangi lokasi tambak udang di Suppa (Foto: Zulkarnaen)

Meski dalam perjalanannya, kampus kita tak mampu mencegah terjadinya bencana-bencana dalam dunia akuakultur. Keterlambatan merespon beragam jenis penyakit yang datang akibat aktivitas eksploitatif para pengusaha akuakultur. Belum adanya tindakan tegas dalam bentuk petisi ataupun peringatan yang tegas dari kampus bagi para pelaku usaha yang merusak lingkungan perairan. Padahal, tindak manajemen yang tidak memerhatikan asas daya dukung lingkungan inilah yang menjadi penyebab mundurnya dunia perikanan.

Dunia usaha begitu cepat merespon hasil penelitian kampus serta dukungan penuh pemerintah dalam pengembangan teknologi akuakultur, namun tidak disertai pikiran untuk penyeimbangan dengan lingkungan ataupun saat ini berupa rehabilitasi lingkungan. Sehingga, madu-madu budidaya dengan cepat terkuras dan hanya menyisakan residu-residu.

Dalam kondisi seperti ini, kampus tiba-tiba mengalami swastanisasi. Kampus diarahkan untuk mandiri dari segi keuangan, yang berarti akan menaikkan ongkos kuliah para mahasiswa dan otomatis sebagian besar menerima mahasiswa yang tergolong berada. Konsekuensinya, mahasiswa baru ini akan lebih berfikir ekonomis. Mempelajari bisnis perikanan sebaik-baiknya (mungkin), cepat selesai agar tidak terlalu membebani orang tua, dan ketika selesai segera mencari pekerjaan atau membuka usaha perikanan sesuai dengan versinya masing-masing. Para mahasiswa (mungkin) sudah memikirkan matang-matang sebelum memilih dunia perikanan sebagai pilihan studi, sudah tahu apa yang harus dipelajari, dan mulai membangun perencanaan bisnis sedari awal, dll.

Kampus mungkin memikirkan transformasi perikanan dan menawarkan ceruk ekonomi yang bisa ditambang oleh para mahasiswa. Kampus memperkenalkan teknologi-teknologi pengolahan perikanan dan teknik pemasaran perikanan, dan bagaimana membangun kebudayaan pasar ikan. Kreativitas lagi-lagi menjadi mungkin, di tengah tengah jurang keterbatasan. (keterbatasan lain yaitu belum berkembangnya industri perikanan dalam skala besar-sehingga penyerapan tenaga kerja masih kurang-berarti, mahasiswa harus betul-betul memaksakan diri untuk kreatif).

Tapi, dari segi keberpihakan kepada masyarakat kecil perikanan menyisakan nganga lebar. Di kampus, mahasiswa semakin individual, semakin mandiri, dan tidak terlalu peduli dengan kehidupan sosial ekonomi masyarakat perikanan yang umumnya ekonomi kecil dan menengah. Di kampus, perbincangan sosial ekonomi semakin jarang, dan ketertarikan mahasiswa dalam organisasi-organisasi kampus pun kian tipis. Sehingga, ide tentang pengembangan – pendampingan masyarakat pembudidaya, berada di urutan kesekian. Prioritas mahasiswa adalah menjadi karyawan dengan gaji tinggi (untuk sementara, lantaran bias mental pegawai masih tertancap kuat), pengembangan bisnis sendiri, namun belum dalam bentuk perpaduan antara bisnis dan sosial atau biasa disebut wirausahawan sosial.

Bagaimana kita dapat mentaktisi kondisi ini? Dimana kita tidak dapat berbalik arah, kebijakan swastanisasi ini pun tidak dapat dianulir lagi, lantaran sudah menjadi pola umum, dan merupakan jebakan utang negara kita yang mengharuskan adanya liberalisasi di sektor-sektor publik.

Pertama ; pengembangan bisnis sosial di kampus kampus. Kegiatan bantuan wirausaha mahasiswa diarahkan untuk melakukan bisnis sosial, bukan sekadar bisnis atau bisnis to bisnis. Misalnya di bidang akuakultur, masalah yang menjangkiti petambak adalah masalah penurunan kualitas lahan dan air. Untuk itu, mahasiswa mengembangkan pupuk organik bersama masyarakat atau pengembangan probiotik dari masyarakat untuk masyarakat, atau menginisiasi popularisasi kincir berbasis tenaga surya. Atau melihat petambak yang kurang berkembang lantaran kekurangan modal, maka mahasiswa segera menyusun model bisnis kredit mikro.

Kedua ; pengembangan sistem pendampingan pembudidaya melalui mekanisme konsultasi budidaya. Masing-masing alumni mencari lokasi dampingan di kampungnya masing-masing. Petambak kecil dilatihnya sesuai dengan teori-teori dasar yang mereka peroleh di kampus. Para alumni ini mereorganisasi pembudidaya dalam bentuk kelompok. Menempatkan diri sebagai teman diskusi dan akhirnya membentuk kesepakatan dengan para pembudidaya bahwa jika hasil panen membaik, maka pelayan masyarakat ini memperoleh sedikit persenan dari hasil panen. Kalau perlu, setelah dapat modal, bisa ikut mengelola tambak dan tambak tersebut menjadi ajang ujicoba dan menjadi tambak pelatihan bagi masyarakat sekitar. Pendampingan ini bukan hanya pendampingan teknis, tapi juga berupa pendampingan ekonomi, dengan penerapan koperasi yang dananya berasal dari masyarakat itu sendiri. Dan, pengembangan koperasi berasal dari pikiran-pikiran bersama dengan masyarakat.

Pondasi dasar mahasiswa untuk bergerak dan berkontribusi di masyarakat bukan hanya dibutuhkan pengetahuan teoritis, tapi juga pengalaman yang kaya di lapangan. Maka, dengan begitu kampus harus segera menginisiasi sistem pendidikan yang lebih eksperimental, lebih berbasis masalah, lebih sering berada di lapangan perikanan itu sendiri.

Penulis: Idham Malik

No Response

Leave a reply "Kampus, Mahasiswa dan Petambak"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.