Komitmen Belajar Menanam Bakau

Benar bahwa setiap pohon menyimpan kisah. Ia juga tidak sekadar menciptakan kenangan dan memberi wujud pada harapan. Tak jarang, makhluk hijau ini pun memunculkan kepiluan.

Dua bulan lalu, WWF-Indonesia, Aquaculture Celebes Community (ACC) dan mahasiswa PKL Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan Unhas,  telah  dua kali melakukan penanaman bakau jenis Rhizopora. Tidak hanya berhenti sampai di situ. Kami  kembali mencipta kisah bersama bibit pohon yang berfungsi sebagai sabuk hijau perairan ini, pada 7-8 Februari. Inilah bentuk komitmen ACC bersama WWF  Indonesia, dalam usaha memperbaiki kondisi lingkungan sekitar tambak udang di Desa Langnga, Kab. Pinrang.

Penanaman mangrove pada 7 Februari 2018 di Kel. Pallameang, Pinrang.

Rencana awal penanaman kala itu, seribu bibit bakau akan kami tanam bersama petambak. Kenyataannya, memang manusia hanya bisa berencana. Tapi faktor X selalu saja ada untuk menghalangi maupun melancarkan niat. Akhirnya, agenda pun berubah.

Hari pertama kami tiba di tambak, penanaman tidak jadi dilakukan. Penyebabnya, kambing berhasil melompati pagar dan menghabisi bakau yang telah kami tanam di bulan Desember dan Januari. Jadi, pada saat itu juga fokus beralih ke perbaikan pagar untuk mencegah kambing masuk ke area penanaman. Dalam proses ini, kendala datang lagi. Partisipasi petambak tidak ada, padahal sebelumnya kegiatan ini sudah dikomunikasikan.  Akhirnya, kami membuat sendiri pagar sederhana dari jaring dan kayu.

Hari kedua, kami ber-enam mulai menanam semampu tenaga yang dimiliki.  Sebab, lagi-lagi petambak tidak hadir di antara kami. Banyak alasan yang kami dengar. Mulai dari sibuk dengan urusannya hingga malas karena cuaca yang mendung dan sedikit gerimis. Sampai pukul lima sore, kami berhasil menanam 400 bibit bakau. Sementara, 600 bibit yang tersisa rencananya akan ditanam oleh para petambak, dua hari kemudian (Sabtu, 10/2).

Penanaman bakau  kali ke-tiga ini, memberi banyak pengalaman dan pembelajaran untuk memikirkan strategi tanam selanjutnya. Kami harus lebih cerdik dari kambing yang tangguh melompati pagar. Selain itu, harus jelas dalam memetakan area tanam dan mempelajari kesesuaian faktor pertumbuhan bakau, termasuk cuaca.  Kemudian, hal yang paling penting adalah menarik empati para petambak untuk berperan aktif dalam usaha perbaikan lingkungan ini.

Riyami

Pemerhati Lingkungan Pertanian – Perikanan

No Response

Leave a reply "Komitmen Belajar Menanam Bakau"