Kondisi Budidaya Udang Vannamei pada Awal 2018

Perubahan cuaca tidak hanya mempengaruhi suasana batin seseorang, tapi juga berdampak pada berhasil tidaknya budidaya udang vannamei. Kondisi hujan terus menerus dapat berdampak buruk bagi kondisi air tambak, terjadi perubahan suhu pada air tambak, perubahan salinitas dan keasaman serta kesadahan air tambak. Jika demikian, kondisi fisiologi udang akan terganggu, sehingga mudah terserang penyakit. Selain itu, pada suhu rendah disertai konsentrasi limbah yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan sumber-sumber penyakit bagi udang.

Dalam dua minggu terakhir, terhitung dari tanggal 2 – 15 Januari 2018, saya bersama beberapa rekan berkeliling Sulawesi Selatan dan juga Sulawesi Barat, untuk mengamati kondisi udang vannamei secara cepat, lantaran adanya tugas lain yang lebih penting, selain itu lokasi jarak tempuh yang jauh dengan waktu yang begitu singkat.

Kami menyisir pesisir pantai sejak dari Maros, Pangkep, Barru, Pinrang, hingga Polewali Mandar (Polman), lalu turun ke Takalar, Jeneponto, Bulukumba, hingga Sinjai. Pada umumnya, pada rentang waktu dua minggu itu, sudah banyak unit tambak yang panen, mungkin jika dirata-ratakan sudah 80%, dan tambak-tambak tersebut ada yang masih dalam tahap persiapan lahan dan ada yang telah mengisi udang, namun belum cukup sebulan.

Hal ini terlihat sejak perjalanan di Pangkep yang kami datangi sebanyak dua kali, hanya dua pemilik tambak yang beroperasi, yaitu Joko di Minasate’ne, Yusran di Labba’kang. Keduanya berhasil menahan udang hingga size 50 – 40 ekor/kg atau 20 -25 gram. Para petambak lain rata-rata sudah panen dan posisi baru tebar. Banyak diantaranya panen karena memang sudah masuk waktu panen, dan ada juga diantaranya yang panen cepat lantaran tekanan cuaca.

 

Di Barru juga menampilkan hal yang sama, tambak yang masih beroperasi hanya milik PT. Esa Putli dan H. Maming di Lawellu. Keduanya dapat beroperasi lantaran penggunaan teknologi tinggi dan pengaturan air yang baik, serta penerapan budidaya dalam kolam beton. Tambak – tambak semi intensif yang ada di Barru, rata-rata panen cepat, diantaranya banyak mengalami berak putih.

Di Pinrang, yang dominan tambak tradisional plus dan semi intensif, serta terdapat tambak intensif yang dimiliki oleh Pak Mangku dan tambak supraintensif yang dikelola oleh Bosowa, rata-rata telah panen. Hanya tambak Bosowa dan sedikit tambak semi intensif yang bertahan pada size besar. Tambak tradisional plus dan semi intensif juga banyak melakukan panen cepat karena terpapar cuaca, hujan yang merubah kondisi air serta memicu munculnya penyakit. Sebab, pada kondisi suhu dan salinitas yang tidak stabil udang dapat stress dan gampang terserang penyakit. Selain itu, beberapa tambak terkena penyakit berak putih. Panen cepat lantaran pertumbuhan lambat dan berak putih juga menjangkiti Takalar dan Sinjai. Hanya tambak – tambak tradisional plus di Tarowang, Jeneponto dan di Ujung Loe, Bulukumba yang bertahan. Hal ini disebabkan karena curah hujan di wilayah selatan ke timur tidak begitu tinggi. Sehingga, bencana banjir, fluktuasi suhu, salinitas dan pH, dan berak putih tidak menjangkiti. Namun, tambak-tambak di Kecamatan Panaikang, Sinjai Timur, rata-rata terpapar berak putih, meski cuaca di sana tidak separah daerah barat Sulsel.

Tambak-Tambak yang Berhasil Bertahan di Musim Penghujan

Tambak-tambak yang disurvei rata-rata adalah tambak yang bertahan melewati musim penghujan. Tambak di Pangkep, Barru, Polman, Takalar, umumnya adalah binaan teknisi dari perusahaan pakan.

Tambak di Pangkep menggunakan plastic Mulsa sistem intensif dengan padat tebar antara 80 – 130 ekor/m2, menggunakan pakan yang efektif serta pengelolaan kualitas air dengan bantuan probiotik Super NB dan Super PS, kincir yang tepat, serta siponisasi, berhasil mengatasi pertumbuhan yang lambat hingga dua tambak di sana dapat mencapai ukuran hingga 25 gram/ekor serta sintasan di atas 80%. Tambak – tambak ini sebelumnya merupakan lahan sawah dan menggunakan sumber air dari sumur bor.

Tambak di Barru yang bertahan adalah tambak yang menggunakan tembok beton, terletak di Lawellu – Siddo dan di Kupa. Tambak – tambak ini menerapkan sistem sterilisasi air yang ketat, penggunaan benur yang  berkualitas, serta penggunaan pakan yang efektif, control kualitas air secara rutin. Sehingga, gejala-gejala penurunan kualitas air dapat segera dicegah. Selain itu, tambak supraintensif milik PT. Esa Putli yang dalam satu meter-nya bisa dengan kepadatan 1000 ekor menggunakan air yang disedot sepanjang lebih dari 100 meter ke arah laut, penggunaan tandon untuk sterilisasi.

Tambak di Suppa Pinrang bertahan dengan sistem tradisional plus, berupa diterapkannya pakan alami serta asupan phronima suppa (were’ sejenis crustacea berukuran kecil) selama satu bulan yang kemudian ditambah dengan pakan buatan pada usia 1 bulan pemeliharaan. Namun, hanya sebagian kecil tambak yang dapat menumbuhkan udangnya hingga ukuran besar. Beberapa tambak terkena bencana banjir, sebagian lainnya panen ukuran kecil (200 – 100 ekor/kg) lantaranya mulai terlihat gejala kematian dan pertumbuhan lambat. Selain itu, yang masih beroperasi adalah tambak Bosowa di Desa WIritasi, Kecamatan Suppa, sebab berada di pinggir pantai yang sumber airnya diperoleh jauh dari laut, serta penerapan sistem tambak beton, dengan asupan oksigen yang cukup dari kincir dan blower (sumber oksigen dari pipa dalam yang berada di dasar kolam), serta security yang ketat.

Di Polman, rata-rata pertumbuhan masih baik. Budidaya udang vannamei di sana belum lama, yaitu sekitar dua tahun. Bahkan ada budidaya yang baru beroperasi selama satu tahun. Penerapan di sana juga masih dalam satu kawasan, yaitu daerah Campalagian. Budidaya udang ada yang menerapkan sistem intensif dengan dasar tanah, plastic mulsa, dan terdapat pembudidaya yang sudah ingin menerapkan sistem beton. Budidaya dengan dasar tanah, terdapat beberapa masalah pada siklus terakhir. Menurut teknisinya, persiapan lahan sudah diterapkan dan tambak tersebut sudah dikeringkan selama dua bulan, namun tampaknya daya dukung lingkungan sudah menurun. Solusinya yaitu padat tebar rendah atau diterapkannya sistem plastik mulsa. Terdapat perbedaan pandangan terhadap metode budidaya dalam satu kawasan tersebut. Ada petambak yang berpandangan bahwa tambak-tambak di daerah tersebut harus menerapkan instalasi pengelolaan limbah (IPAL) dan memang telah diterapkan oleh petambak, sebab dapat menjamin keberlanjutan usaha budidaya di sana. Namun, terdapat petambak yang belum berkeinginan untuk menginvestasikan modalnya untuk penerapan IPAL maupun Tandon. Sehingga, kemungkinan penurunan kualitas lingkungan besar terjadi.

Lalu kami menyambangi tambak – tambak di Maros. Kami memfokuskan dua tambak yang sementara beroperasi, yaitu tambak penelitian BPPBAP Maros di Manrimisi’  serta tambak semi intensif milik warga di Bontoa, Maros. Tambak BPPBAP Maros dikelola oleh Burhanuddin, menerapkan sistem intensif di kolam mini, yaitu berukuran 20 x 10 meter. Kolam tersebut diisi udang sebanyak 25000 dengan penggunaan pakan yang ketat, serta tidak menggunakan input-input budidaya yang lain, seperti pupuk ataupun probiotik. Lingkungan tambak ini pun terjaga dengan adanya komunitas mangrove yang lebat di sekitarnya. Sedangkan tambak di Bontoa berada di area tambak bandeng dan di sekitarnya terdapat pemukiman penduduk. Penanganan udang harus betul-betul ekstra, sebab kualitas air di sekitar tambak sudah menurun, dikarenakan penggunaan air untuk banyak peruntukan serta masih adanya asupan limbah rumah tangga.

Di Takalar kami mendatangi tambak milik BBAP Takalar di Galesong dan milik Pak Andre di Takalar Lama. Keduanya menerapkan sistem yang lebih terintegrasi dengan lingkungan sekitar. Tambak BPPBAP menerapkan sistem tandon dan IPAL, sedangkan tambak Pak Andre yang terletak di pinggir pantai Taipa, Takalar Lama memanfaatkan kondisi air yang baik di sekitar komunitas mangrove yang lalu dikelolanya dalam sebuah tandon beton. Selain itu, air limbah buangan ditampungnya di kolam tanah yang di dalamnya terkandung rumput laut gracilaria.

Bergerak ke Jeneponto, kami berhadapan dengan tambak – tambak tradisional plus di Desa Tarowang. Tambak-tambak seluas 50 are dipelihara udang vannamei hingga 50.000 ekor. Hebatnya, petambak dalam hal ini Syamsul Bahri hanya menambahkan pakan berupa jagung yang dikukus, bukan pakan pabrikan. Diberikan sebanyak sekali dalam seminggu. Pertumbuhan udang baik da nada yang telah mencapai ukuran 25 gram/ekor. Di sekitar tambak masih banyak mangrove jenis Api-Api dan bakau. Begitu halnya dengan tambak Karaeng Bina yang terletak di Pantai Binamu yang rimbun tumbuhan mangrove. Kondisi udang sangat baik. Terdapat tambak tradisional lain yang pertumbuhannya agak lambat. Hal ini terjadi karena lokasinya yang agak jauh dari Pantai serta kondisi air di saluran air yang mulai menurun kualitasnya.

Di Bulukumba, hampir semua tambak intensif masih berumur muda, sehingga udang masih sangat kecil. Berderet – deret perusahaan perikanan budidaya di pinggir pantai Bulukumba, yaitu milik perusahaan-perusahaan bermoal besar. Menuntun kami untuk fokus pada tambak – tambak tradisional yang berada di Ujung Loe. Udang – udang di sana dikelola dengan sederhana, mengandalkan kekuatan alam dalam hal ini pasang surut air tambak serta tersedianya pakan alami berupa kelekap, plankton dan lumut. Rata-rata budidaya dapat bertahan hingga ukuran besar. Sebagian tambak, pertumbuhannya kurang lancar lebih karena kurangnya pakan alami atau tebarannya terlalu tinggi dan tidak didukung oleh pakan buatan. Sedangkan tambak yang terletak jauh dari permukaan laut, lebih rentan terhadap kematian serta pertumbuhan yang lambat. Hal ini kemungkinan terjadi karena air lebih bersifat tawar dan kurangnya asupan air asin dari laut. Untuk itu, sangat dibutuhkan perbaikan saluran air untuk membantu pengaliran air laut ke tambak-tambak tersebut. Selain itu, perlunya dicoba komoditas lain yang cocok dengan kondisi lahan, seperti budidaya gracilaria serta bandeng yang lebih dioptimalkan.

Kita menuju lokasi terakhir, yaitu Sinjai. Budidaya udang vannamei merebak di Sinjai Timur dalam satu tahun terakhir. Empang-empang yang sebelumnya diperuntukkan untuk ikan atau kubangan, sekarang berganti fungsi menjadi tambak udang vannamei. Kondisi tanah berliat, membuat para petambak menabur kapur cukup banyak untuk meningkatkan konsentrasi pH tanah. Sebagian petambak berhasil panen baik, tapi tidak sedikit yang mengalami panen cepat, lantaran terpapar berak putih. Tidak tanggung-tanggung, petambak intensif yang menggunakan plastik maupun supraintensif juga terpapar penyakit ini. Budidaya udang yang telah berusia 40 – 50 hari saja masih berukuran sangat kecil, yaitu 5 – 6 gram, selain itu, nafsu makan udang menurun dan dapat menimbulkan penurunan berat badan dan kematian udang. Pembudidaya di sana telah mencoba banyak cara, seperti menambah kunyit dalam pakan, hingga menggunakan combantrin atau obat cacing. Namun, tidak membuahkan hasil, sehingga para petambak menyerahkan sepenuhnya pada nasib, sebab mereka telah berusaha.

Berak putih adalah penyakit yang disebabkan oleh perubahan kualitas air akibat konsentrasi bahan organic yang cukup tinggi. Hal ini mempengaruhi konsentrasi plankton yang didominasi oleh plankton yang tidak baik bagi pertumbuhan udang, seperti BGA (Bluegreenalga), serta konsentrasi bakteri vibrio yang meningkat. Hal ini disebabkan oleh sterilisasi air yang kurang mantap, selain itu penggunaan pakan yang tidak efisien sehingga terjadi penumpukan sisa pakan atau kondisi lumpur tambak yang sudah mempengaruhi kualitas air. Untuk itu, para petambak harus fokus pada pencegahan dengan perbaikan kualitas air di awal dan pemberian pakan secara efisien.

Penutup

Terdapat beberapa factor kunci pada tambak-tambak yang bertahan di tengah musim penghujan ini, yaitu :

  1. Tambak tersebut terletak di lokasi yang lingkungan perairannya masih baik, yang didukung oleh komunitas mangrove yang cukup lebat.
  2. Tambak tersebut masih dioperasionalkan secara tradisional dan belum terdapat tambak semi intensif atau intensif di sekitarnya. Tetap dapat berhasil walaupun hanya menggunakan pakan alternative seperti jagung kuning yang dikukus.
  3. Tambak intensif yang terletak di pinggir pantai dan belum tidak terdapat tambak intensif lain di sekitarnya, selain itu terdapat banyak mangrove, terdapat tandon air serta limbah organic dikelola melalui IPAL.
  4. Tambak intensif yang terletak di sekitar tambak intensif lain, tapi dikelola dengan sangat baik dan teknologi tinggi. Sumber air berasal dari laut yang diambil jauh ke tengah laut serta menggunakan biosecurity yang sangat tinggi.

Oleh karena itu, agar budidaya udang vannamei dapat bertahan di segala medan cuaca, tetaplah memperhatikan kondisi – kondisi tersebut. Sebaiknya mulai menerapkan konsep budidaya ramah lingkungan yang tetap memerhatikan aspek lingkungan, dalam hal ini ketersediaan tutupan mangrove dan pengolahan limbah air tambak. Agar budidaya dapat bernafas panjang, hingga anak, cucu, dan cicit kita.

Idham Malik

One Response
  1. author

    PORROK AJA4 months ago

    kami memiliki 800 ha lahan tambak, lokasi di liu tallu depan pulau bunyu kaltara, baru terdapat 2 petak( 7ha &17 ha) kodisi pintu air rusak berat, jika berminat hub 085222440659

    Reply

Leave a reply "Kondisi Budidaya Udang Vannamei pada Awal 2018"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.