Kondisi dan Posisi Perempuan dalam Budidaya Perikanan Tradisional – Sebuah Perspektif

Peran perempuan dalam kegiatan perikanan budidaya mulai didiskusikan oleh beberapa kalangan, utamanya aktivis LSM mainstrem. Berbagai LSM giat mensosialisasikan pentingnya melibatkan perempuan dalam proses perencanaan maupun proses produksi perikanan. Asumsinya, perempuan kurang diberi kesempatan untuk terlibat aktif dan lebih banyak berurusan dengan aktivitas domestic (rumah). Dan produktivitas akan meningkat jika dalam kegiatan ekonomi terdapat pekerja perempuan.

Menanggapi kencendrungan ini, kita perlu melihat kemungkinannya dengan lebih waspada. Pertama, seperti apa karakter pekerjaan yang dilakoni oleh pembudidaya ikan atau udang? Kedua, Pembagian peran dalam konteks kebudayaan seperti apa? Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi situasi pembagian peran tersebut? Dan ketiga, sejak kapan pembagian peran itu berlangsung?

Budidaya udang dan ikan di Sulawesi Selatan, umumnya masih menerapkan teknologi sederhana atau istilahnya masih sangat tergantung dengan alam. Sehari-harinya, laki-lakilah yang mengambil peran dalam pengolahan tanah dan air, agar terpenuhi daya dukung kolam budidaya hingga komoditas budidaya dapat tumbuh dengan baik. Sedangkan perempuan kebanyakan berurusan dengan penanganan konsumsi rumah tangga serta pengaturan ekonomi.

Panen gracilaria dilakukan oleh Ibu petani.

Kalau dilihat sekilas, meski dominan, pekerjaan laki-laki ini tidak ribet. Tradisional berarti mengandalkan berkah alam melalui siklus air pasang surut, serta kemampuan lahan dalam menghasilkan pakan alami. Intervensi manusia hanya berupa pupuk, sedikit kapur, dan tentu benur. Petambak tinggal menyiapkan lahan beberapa hari, dengan pengeluaran air dilanjutkan dengan pengeringan sebentar, perbaikan tanggul, pengapuran, hingga pengisian air, yang dilanjutkan dengan pemupukan air. Hal –hal itu dilakukan biasanya tidak butuh tenaga banyak. Apalagi jika banyak petambak lain yang membantu.

Namun, hal itu akan menjadi berbeda, jika produksi ingin ditingkatkan, melalui penambahan jumlah lahan dalam bentuk sewa lahan baru atau  menambah kemungkinan hasil produksi. Intervensi manusia semakin bertambah, dalam bentuk waktu yang digunakan untuk pemantauan tambak, air, dan pertumbuhan udang, serta waktu dan tenaga untuk pengelolaan pakan dan control air. Tentu, pikiran juga semakin kencang jika padat tebar dan jumlah pengawalan tambak bertambah. Di beberapa tempat, hal ini tidak diiringi dengan kemampuan belajar atau tidak disiapkan untuk dapat beradaptasi secara cepat, lantaran kurangnya kegiatan belajar mengajar di sekitar tambak.

Pola kerja sederhana dengan keberhasilan yang cukup karena didukung oleh lingkungan akan menjadi berbeda jika pola kerja yang telah tersentuh modernisasi, dengan kondisi lingkungan yang semakin memburuk, serta adanya tuntutan untuk meningkatkan produksi dan penghasilan. Waktu dan tenaga kian digenjot, serta kemampuan belajar  harus lebih analitik, investigative, dan efektif. Melihat kondisi tersebut, apakah perempuan dapat mengambil cela untuk berkontribusi dalam kegiatan tambak? Terlepas masih kuatnya anggapan bahwa perempuan sebaiknya mengurus rumah tangga saja atau mengerjakan hal-hal lain selain manajemen produksi tambak.

Saya melihatnya tetap ada kemungkinan keterlibatan perempuan dalam aktivitas tambak. Dalam sejarah pengaturan peran laki-laki dan perempuan dalam sebuah keluarga, menurut Yuval Noah Harari dalam buku SAPIENS, pembagian peran ini bermula sejak jaman pertanian, 11 ribu tahun yang lalu. Laki-laki bekerja di luar rumah dengan mengolah lahan sedangkan perempuan menghabiskan waktu mengurus rumah, serta membesarkan anak. Mungkin awal-awalnya lebih pada kepentingan praktis, sebab sebelum jaman itu, saat masih jaman berburu, laki-laki dan perempuan sama-sama berburu dan sama-sama mengolah dan menikmati hasil buruan. Lantaran berlangsung terus menerus praktek sosial pembagian peran yang bertujuan praktis ini, akhirnya membentuk suatu norma yang belakangan disebut sebagai norma patriarki, yaitu penguasaan laki-laki terhadap perempuan. Penguasaan laki-laki terhadap perempuan dimana perempuan ibarat komoditi, kepemilikan perempuan pun seiring dengan kepemilikan lahan secara pribadi. Budaya pertanian ini lalu membentuk konsep etika, dimana perempuan adalah unsur kehormatan keluarga. Laki-laki dalam keluarga harus menjaga kesucian wanita-wanita yang ada dalam keluarga tersebut. Konsep-konsep ini semakin diperkukuh oleh hadirnya agama-agama yang menekankan aspek kehormatan dan kesucian.

Budaya modern, dengan pola produksi yang berubah, dari pertanian ke sektor jasa dan industri, menuntut perempuan untuk lebih aktif membantu suami, apalagi jumlah lahan semakin berkurang, dan jumlah penduduk yang semakin banyak. Perempuan mulai ikut pendidikan dan mulai ikut bekerja di sector jasa dan industri. Pakem-pakem lama mulai ditinggalkan, sebab perempuan mulai diberi kebebasan oleh sistem dan struktur ekonomi. Meski di awal-awal, masih kental dengan diskriminasi dan kekerasan terhadap pekerja perempuan. Posisi ekonomi perempuan pun meningkat dan hal ini tentu berpengaruh terhadap posisi perempuan dalam relasinya dengan laki-laki. Perempuan yang mandiri menyebabkan laki-laki menempatkannya dalam posisi yang lebih sepadan. Apalagi, doktrin individualism dan humanism pada awal-awal renaissance dan ekonomi kota ini berhembus dan membebaskan perempuan untuk mengatur dirinya sendiri atas nama hak asasi manusia.

Kembali ke pertanyaan berikutnya, apakah mungkin perempuan ikut andil dalam aktivitas ekonomi? Jawabannya adalah mungkin. Meningkatnya intervensi manusia, tentu membutuhkan tambahan tenaga manusia. Pada sebagian masyarakat tradisional petambak, kemampuan untuk menyewa pekerja tambahan belum cukup, sehingga, istrilah yang membantu kerja-kerja tambak. Seperti aktivitas pemanenan rumput laut gracilaria di Takalar atau di daerah lain di Sulawesi Selatan, istri berperan aktif dalam kegiatan panen dan penjemuran tambak. Atau budidaya rumput laut umumnya di Indonesia, perempuan berperan dalam kegiatan pengikatan bibit dan juga saat panen. Tentu, ini dapat terjadi pada petambak udang di Suppa, Pinrang, dengan meningkatnya kebutuhan akan tenaga, kemungkinan kelak, perempuan akan ikut membantu. Hal ini bisa saja terjadi pada kasus-kasus khusus, seperti suami mengalami kecelakaan maka istrilah yang mengambil peran utama dalam perencanaan dan pengawasan tambak. Atau suami sedang sakit, istri yang harus mengontrol kegiatan tambak. Lama kelamaan, pola baru akan terbentuk, sehingga perempuan sedikit-demi sedikit mengambil peran dalam produksi.

Petani rumput laut dari Kepulauan Kei, Maluku Tenggara.

Saya berpendapat bahwa perempuan akan terlibat jika kondisi sudah mengharuskan. Norma-normal lama akan tergantikan jika terjadinya situasi baru, yang pola-pola lama sudah kewalahan untuk menyesuaikan. Hasil pengamatan dan penelitian dunia juga menunjukkan bahwa, kehadiran perempuan dalam suatu sistem kerja, dapat meningkatkan performa tim kerja hingga 30%. Berarti, dengan ambil andilnya perempuan dalam aktivitas tambak, tentu diperkirakan performa kerja dan hasil dapat lebih meningkat.

Perempuan dapat terus mengasah diri untuk menguatkan peran – peran yang diemban sebelumnya. Seperti pengaturan dan perencanaan keuangan. Perempuan dapat menjadi teman berfikir laki-laki dalam pengambilan keputusan pengelolaan tambak. Sehingga, keputusan yang keluar betul-betul telah ditimbang secara baik-baik. Selain itu, umumnya perempuan dalam konteks pertanian mampu menekan pria-nya untuk bekerja lebih keras. Jika perempuan diajak berfikir lebih kritis mengenai pengelolaan keuangan, pasti kemampuan keluarga tersebut untuk bekerja akan lebih giat dan tentu lebih cerdas dalam memutar uang.

Pelatihan perencanaan usaha WWF-ID Kelompok Samaturu’ Takalar melibatkan ibu-ibu petambak.

Bagaimana mengefektifkan kerja perempuan? Kita tidak dapat memaksakan kehendak dan kemauan kita mengenai peran perempuan dalam ruang dan waktu masyarakat tertentu. Kita harus sadar bahwa laki-laki dan perempuan berada dalam kultur pertanian, keterlibatan perempuan sangat tergantung oleh perkembangan sarana produksi, serta berkembangnya kebutuhan-kebutuhan hidup. Nah, berarti, ada baiknya jika kita menyentuh hal yang lebih substansial yang mempengaruhi laki-laki maupun perempuan, yaitu perbaikan sarana produksi dan metode produksi atau structural petambak tradisional, yaitu status sebagai penyewa tambak dan pekerja tambak yang mendominasi petambak kita serta pemilikan tambak yang dibawa 1 hektar. Setelah itu, peningkatan kemampuan analitik para petambak dalam melihat faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan komoditas budidaya. Nah, dalam peningkatan kemampuan ini, bolehlah dilibatkan perempuan. Agar perempuan juga dapat membantu suaminya berfikir lebih jernih dalam pengelolaan tambak.

Idham Malik

No Response

Leave a reply "Kondisi dan Posisi Perempuan dalam Budidaya Perikanan Tradisional – Sebuah Perspektif"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.