Kondisi Terkini Rumput Laut dan Petani Rumput Laut – Gracilaria

Tulisan ini pernah terbit di halaman facebook pada 21 September 2017

Rumput laut telah lama menjadi komoditas idola, berkat begitu banyaknya manfaat yang dapat kita peroleh dari tumbuhan alga tersebut. Rumput laut menjadi bahan alternatif pangan bergizi, dan sejak perkembangan industri pangan, industri farmasi dan industri kosmetika, permintaan akan rumput laut tidak ketulungan.

Namun, seiring dengan pertumbuhan permintaan serta direspon dengan penawaran yang tak kalah hebohnya dari masyarakat pesisir Indonesia, yang dari tahun 2004 sepanjang pesisir Sulsel serta pesisir lain di Indonesia telah didominasi oleh rumput laut, permasalahan petani rumput laut, beserta komoditasnya seperti benang kusut, yang begitu sulit kita urai dan kita perbaiki.

Asumsi awal bahwa budidaya rumput laut dapat meningkatkan kesejahteraan petani, mulai tampak rada-rada kabur. Betul, bahwa di tahun-tahun awal, rumput laut dapat menyekolahkan anak-anak petani, dana dari rumput laut digunakan untuk memperbaiki rumah, dan lain – lain. Kini, petani rumput laut lebih banyak isap jari. Kondisi rumput laut yang semakin lama semakin tidak menentu. Di banyak tempat, khususnya rumput laut jenis gracilaria, penurunan mutu rumput laut semakin terlihat. Rumput laut kurus, berwarna kuning, rusak, patah-patah dan kurang mengandung bahan agar dan kurang elastis.

Penurunan kondisi lingkungan menjadi faktor utama penurunan kondisi rumput laut. Perubahan lingkungan ini merupakan efek multifaktor, baik eksternal maupun dalam internal tambak rumput laut. Kondisi mangrove yang berkurang menyebabkan nutrisi alami air sekitar tambak rumput laut/gracilaria juga turut berkurang. Perubahan kualitas air yang berasal dari hulu sungai, dengan laju sedimentasi yang kian tinggi serta bahan-bahan organik limbah rumah tangga dll yang dibawa air sungai ke dalam tambak.

Perubahan iklim pada daerah-daerah tertentu turut mempengaruhi. Berupa penurunan salinitas/garam air atau meningkatnya salinitas air. Penurunan dan kenaikan suhu air, menyebabkan rumput laut kerdil lantaran kesulitan dalam beradatasi.

Perubahan lingkungan ini kurang direspon oleh petani, banyak diantara petani yang kurang mengetahui langkah-langkah yang harus diambil untuk menanggapi perubahan lingkungan. Di samping itu, praktek-praktek budidaya juga tidak mengalami perubahan. Praktek tradisi sudah selayaknya ditransformasi dan disesuaikan dengan perkembangan terbaru. Budidaya rumput laut gracilaria sudah semestinya menerapkan panduan standar budidaya gracilaria, seperti pengeringan tambak hingga tanah retak-retak, perendaman dan pencucian air tambak, pengapuran, pemberantasan hama, serta pemeliharaan air dan rumput laut, dengan kontrol air-pergantian air, serta mengatur ketinggian air dan input pupuk untuk perbaikan kualitas air.

Sejauh ini para pembudidaya jarang yang melakukan pengeringan tambak, apalagi pencucian dan pengapuran tambak. Selain itu, konstruksi tambak yang sudah tidak sesuai, menyebabkan sulitnya pergantian air, dan sulitnya meninggikan air dalam tambak. Perbaikan konstruksi tambak dapat dilakukan jika para petambak punya surplus produksi, selain itu tambak merupakan milik pribadi bukan berupa tambak sewa. Di samping itu, perbaikan saluran air perlu dilakukan, dengan syarat adanya surplus produksi secara bersama dan adanya kesepakatan bersama para petambak untuk bersama-sama melakukan perbaikan saluran air.

Harga rumput laut yang jatuh bangun, jaminan pasar yang tidak pasti, menyebabkan ekonomi petani yang kembang kempis, sejauh ini, hasil dari bertani rumput laut hanya untuk menutupi kebutuhan dasar rumah tangga. Hal ini pulalah yang menyebabkan kurangnya dana untuk investasi perbaikan lahan dan manajemen budidaya.

Di sisi lain, ketika harga cukup tinggi, kualitas rumput laut menurun. Sebab, dengan seketika banyak pembeli rumput laut beroperasi di kantung-kantung produksi, yang membeli dengan harga lebih tinggi dari perusahaan yang mengawal sepanjang tahun. Prilaku pasar tersebut direspon petani dengan menjual rumput laut walaupun belum cukup usia panen, yang tentu berimplikasi pada kualitas rumput laut yang menurun. Hal ini direspon pula oleh industri rumput laut di belahan dunia lain, yang membuat industri tersebut tidak mau lagi menerima bahan dari daerah rumput laut yang berkualitas rendah.

Aktivitas pengeringan rumput laut di halaman tambak Dg. Camang, Kelurahan Takalar Lama, Takalar.

***
Lantas, apa yang harus kita lakukan dengan mengamati kondisi tersebut?

Hal pertama yang harus kita lakukan adalah membuka akses informasi kepada para petani rumput laut gracilaria. Agar mereka dapat menyesuaikan praktek budidayanya dengan perubahan-perubahan lingkungan dan kondisi tambaknya.

Akses informasi ini disertai dengan penyertaan contoh budidaya yang baik, dengan membujuk tokoh pembudidaya untuk memulai penerapan budidaya yang baik tersebut. Contoh ini menjadi model, yang nantinya dapat ditiru oleh para pembudidaya yang berada dalam satu kawasan budidaya.

Penyaluran informasi, tukar informasi serta adanya model budidaya akan efektif jika dilakukan dalam skema kelompok/organisasi. Berarti, kita harus mendesain kembali organisasi pembudidaya rumput laut gracilaria, yang bersifat partisipatif dan sesuai kebutuhan para pembudidaya, yang secara pelan-pelan melakukan perbaikan budidaya secara bersama.

Transformasi pemahaman budidaya serta adanya kebersamaan dalam kelompok untuk memecahkan persoalan bersama dan untuk naik bersama-sama, meningkatkan bayangan atau imajinasi mengenai masa depan. Kepercayaan akan keberhasilan masa depan, dengan dikuasainya teknik dan rekayasa, membuka peluang petani dan kelompok untuk memperoleh modal. Adanya modal menjamin kegiatan rekonstruksi dan perbaikan infrastruktur, serta penerapan teknologi yang lebih baik, seperti kebun bibit, penggunaan terpal dan kincir dan penjemuran rumah kaca. Tentu, dengan begitu, hasil akan lebih banyak dan lebih baik, serta membuka kemungkinan untuk pengembangan budidaya serta pengolahan budidaya gracilaria.

Dengan begitu, pengembangan budidaya mesti memenuhi syarat-syaratnya, yaitu peningkatan kapasitas dan adanya data-data kondisi untuk menemukan solusi rumput laut, adanya penguatan kelembagaan kelompok yang bersifat partisipatif, adanya modal yang dikelola secara bersama, dan adanya arah bimbingan menuju peningkatan kuantitas, kualitas, dan keberlanjutan usaha rumput laut.

Idham Malik

 

No Response

Leave a reply "Kondisi Terkini Rumput Laut dan Petani Rumput Laut – Gracilaria"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.