Kunjungan ke Tambak Tradisional di pesisir Bulungan, Kalimantan Utara

Kawan-kawan ACC, pada Kamis, 30 November 2017. Saya mengunjungi salah satu tambak dekat pulau Dian, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Tambak di daerah ini ukurannya sangat luas, antara sepuluh hektar sampai seratus hektar perpetaknya. Untuk itu, pengelolaannya masih dalam bentuk tradisional atau masih mengandalkan kekuatan alam.

Tambak mengandalkan pasang surut air dari muara sungai yang masuk melalui pintu air yang kokoh demi menahan kekuatan air pasang. Praktek budidaya udang dengan sistem tradisional seperti ini belum dapat menghasilkan produktivitas tinggi, karena banyaknya factor-faktor alam yang tak dapat dikontrol oleh manusia. Seperti masuknya pemangsa ke dalam tambak yang sangat luas, seperti biawak, burung-burung, ikan-ikan besar seperti baronang dan belanak. Bahkan hama hewan buas berupa buaya, yang kadang-kadang masuk ke dalam tambak. Karena itu, para petambak cukup bersyukur jika udang yang hidup hanya sepuluh persen.

tambak udang windu dengan bibit mangrove di dalamnya.

Di sisi lain para petambak tetap dapat hidup dengan adanya tambahan ekonomi yang diperoleh dari aktivitas penangkapan kepiting bakau. Kepiting bakau masih sangat banyak di sekitar tambak, lantaran masih rimbunnya hutan mangrove. Ekosistem mangrove memang sebagai tempat hidup spesies kepiting. Pendapatan penjaga tambak dapat mencapai 100 – 200 ribu perhari dari penangkapan kepiting bakau. Pendapatan lain yang diperoleh yaitu dari hasil pembesaran ikan bandeng di dalam tambak, yang merupakan komoditas pelengkap dari udang.

Tambak-tambak yang ada di pesisir Bulungan ini awalnya adalah hutan mangrove, yang pada tahun 90-an banyak dikonversi oleh para pendatang, baik dari daerah Sulawesi Selatan atau dari daerah lain di Indonesia. Mereka mendapat hak pengelolaan lahan dari pemerintah desa atau suku setempat serta pendapat pengesahan dari pemerintah melalui Hak Guna Lahan. Pembukaan lahan memang, menyebabkan kerusakan ekosistem yang dahsyat akibat ditebangnya mangrove ribuan hektar untuk menjadi mangrove, tapi di sisi lain, praktek budidaya ini menyumbang ekonomi cukup besar. Lantaran banyaknya tambak yang di buka, menyebabkan datangnya investor untuk pembangunan coldstorage di Kota Tarakan.

Ekonomi yang berkembang, memberi tempat pula bagi para perampok yang menghantui kehidupan para penjaga tambak. Apalagi pada musim panen udang. Para perampok udang ini tidak segan-segan untuk membunuh korbannya. Makanya, beberapa pemilik tambak, jika ingin memanen dan mengambil udang di tambak dan membawa ke Kota Tarakan, selalu membawa pengawal tentara bersenjata.

Para pekerja tambak banyak berasal dari daerah Sulawesi Selatan. Mereka tinggal berbulan-bulan di tambak, dan hanya pulang satu kali atau dua kali persiklus. Segala keperluan tambak, berupa beras, minyak goreng, perlengkapan mandi, rokok, disediakan oleh punggawa/juragan. Mereka dibayar dengan sistem bagi hasil, biasanya mereka memperoleh hasil antara 15 – 20 persen dari hasil panen.

Peserta training sertifikasi udang ramah lingkungan sedang survei tambak Bulungan.

Sebagian tambak di daerah Bulungan ini sudah mulai mengikuti program perbaikan budidaya yang didorong oleh WWF-Indonesia, melalui skema sertifikasi budidaya udang Aquaculture Stewardship Council. Dalam standar sertifikat tersebut, para pemilik tambak diharuskan untuk memperhatikan aspek legalitas tambak, melakukan rehabilitasi ekosistem mangrove, menjaga dan mengkonservasi keanekaragaman hayati, meminimalisir dampak aktivitas tambak terhadap kehidupan sosial masyarakat setempat, memperhatikan kehidupan para pekerja, memperhatikan aspek kesehatan tambak, serta memperhatikan keberlanjutan induk udang, dan asal usul bahan baku pakan.

Sepulang dari tambak, kami sangat berharap semoga pengelolaan tambak dapat lebih memperhatikan aspek lingkungan lagi..

 

Idham Malik

No Response

Leave a reply "Kunjungan ke Tambak Tradisional di pesisir Bulungan, Kalimantan Utara"