Menanam Mangrove = Menanam Harapan

Sebuah pepatah Cina mengatakan, “kebiasaan adalah jaring laba-laba pada awalnya dan kabel pada akhirnya”.
……
Berangkat dari teori itu, yang jika ditarik-tarik akan sampai pada intensitas dialektik material-nya para materialis, berupa kuantitas ke kualitas, atau praktik sosial dalam ruang dan waktu yang dilakukan secara intens, dapat mempengaruhi struktur sosial atau disebut strukturasi oleh Giddens.

Dalam empat tahun terakhir, berkutat di dunia perikanan dan lingkungan perairan, begitu banyak persoalan yang kami hadapi, sekaligus pelajaran yang kami timba. Salah satu persoalan mendasar adalah pergeseran struktur ekologis, berupa kondisi lahan dan air yang jika ditinjau secara akademik, mengalami penurunan mutu.

Pergeseran ini tak lepas dari praktik sosial yang dilakoni. Praktik yang cocok pada rentang waktu tertentu, tapi tak pas lagi ketika panah waktu bergerak merobek harapan. Perubahan struktur ekologis mendorong perubahan pula pada praktik sosial, memaksa para pelaku untuk menyesuaikan dengan keadaan. Belum lagi pelaku ini juga punya hasrat-hasrat, yang boleh dikata melandasi pola pikir dan rancang masa depan.

Namun, perubahan itu harus serentak, tidak sekadar perubahan prilaku individu dalam menangani alam internal (tambak), tapi juga bagaimana para pelaku menangani alam eksternal (lingkungan sekitar). Syarat – syarat pengolahan alam, selain penerapan teknologi yang memangkas beban, lebih terukur, ada takaran waktu dan spesifikasi ruang tertentu, juga melakukan gerak untuk rehabilitasi kondisi-kondisi alam yang goyah, untuk itulah menanam bakau perlu dan mendesak.

Kerja, tanam, sedikit-sedikit, yang nantinya akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan kelak akan menjadi pola baru, skemata baru, sehingga praktik budidaya, praktik sosial dan praktik ekonomi kembali bergairah, sebab faktor-faktor alam demikian ditangguhkan.

Namun, praktik-praktik baru ini harus berseberangan dengan praktik-praktik lama, yang mana kurangnya kepedulian kepada bakau. Tak kurang bakau ditebang, dilindas eskapator, ditimbun tanah, akibat aktivitas pembangunan tambak. Sebagian daunnya dilalap kambing, yang tidak terkontrol pemeliharaannya.

Ini tak lain dari pertarungan praktik atau konflik atau kontradiksi gagasan, antara membangun harapan di masa depan dengan mengetatkan praktik masa kini, berhadapan dengan monopoli masa kini dan tak menyisakan sedikit pun untuk masa depan.

Untuk itulah kami menanam bakau, di saluran-saluran air tambak, di muara-muara, di pinggir-pinggir pantai, dan kelak di setiap pojok, kolong, pesisir Sulawesi Selatan.

Sedikit pun itu, dengan doa dan harapan. Sebab kami percaya, kami dapat turut mempengaruhi masa depan, dengan praktik-praktik masa kini.

 

Idham Malik

No Response

Leave a reply "Menanam Mangrove = Menanam Harapan"