Menghilangnya Udang Windu dari Peta Tambak Kita

Tak seorang pun yang dapat melupakan rasa khas Udang Windu. Aroma gurih yang mendorong kita kian lahap, dagingnya lembut membuat kita nyaman mengunyah, serta tenaga yang kita peroleh setelah menyantapnya. Udang yang biasa disebut black tiger ini pun masih merajai pasar internasional. Bahkan, warga jepang mendirikan koperasi besar untuk menjamin anak-anak mereka tetap dapat makan udang, yang dari segi gizi sangat baik bagi peningkatan kecerdasan.

Lalu, bagaimana nasib udang windu ini dalam lintasan sejarah abad 21 ini? Udang ini pernah berjaya dulu 1980-an – 1990-an. Dengungannya sebenarnya masih terdengar, dan masih banyak orang yang mencoba-coba untuk kembali membangkitkannya. Kenangan tentang kejayaan udang windu masih terasa manis di mulut para perintis.

Pemasangan jaring untuk panen parsial (Dokumentasi pribadi)

Pemasangan jaring untuk panen parsial (Dokumentasi pribadi)

Udang ibarat tambang emas. Pihak-pihak yang punya kekuatan menggelar usahanya semaksimal mungkin. Setiap orang, apalagi yang bermodal, menggenjot usahanya untuk meraup untung sebesar-besarnya. Ekonomi tumbuh pesat, orang tiba-tiba dapat belanja banyak jika tergolong dalam radar bisnis udang windu. Rumah dibangun, kendaraan dibeli, orang mulai sombong dengan materi yang dimilikinya. Selain itu, orang-orang di luar negeri menikmati udang windu, di restoran-restoran. Mereka pun tahunya makan, karena mereka punya uang. Maklum, pertumbuhan ekonomi lebih dulu hidup di negara mereka. Uang untuk udang, bukanlah soal.

Lalu, wabah white spot virus merebak. Virus ini terlebih dahulu menghantam industri udang di negara-negara tetangga, yang akhirnya jebol juga dan meranggas di Indonesia. tambak-tambak bermodal besar, dengan sistem intensif maupun semi intensif, satu persatu tumbang. Lama-kelamaan, udang ini semakin sulit dipelihara. Sehingga, para investor pun menyerah dan mengalihkan modalnya ke bisnis yang lain. Setelah beberapa kali gagal untuk bangkit dari kejatuhan udang windu. Tanah tanah kembali menganggur.

Yang bertahan hanya tambak-tambak tradisional, meski semakin lama semakin sulit pula. Sedangkan para pemodal besar, yang sudah terlanjur hidup dari bisnis udang, akhirnya kembali bernafas segar saat keluar regulasi untuk mengusahakan jenis vannamei (asal Amerika) sebagai pengganti windu. Udang Vannamei pun membangkitkan lagi industri udang. Teknologi kembali hidup, para pelaku bisnis yang berputar dalam bisnis ini (penjual pakan, penjual benur, penjual kincir air, probiotik, pupuk, kapur), kembali menemukan semangatnya. Namun, meski bisa meraup untung, tapi tidak seheboh dulu lagi. Harga vannamei juga tidak semahal udang windu.

Waktu berjalan, menelan usia manusia. Udang windu, walaupun dikelola secara tradisional, semakin rendah daya hidupnya. Ini tentu disebabkan oleh penyakit yang sudah mengendap dalam habitat udang windu. Selain karena kualitas lingkungan yang semakin buruk. Petambak-petambak bermodal kecil yang dahulu dapat sedikit memperoleh uang dari praktek budidaya ini pun akhirnya menyerah. Banyak yang beralih ke budidaya bandeng. Udang windu sekadarnya saja, hanya harap-harap cemas.

Ketika ada peluang untung dari budidaya gracilaria (rumput laut jenis agar-agar), ramai-ramailah pembudidaya udang beralih ke komoditas gracilaria. Hal ini terlihat di kawasan budidaya di Kec. Cenrana, Kab. Bone, serta Kel. Takalar Lama, Kab. Takalar. Lokasi budidaya gracilaria yang kami dampingi (tambak seperti dalam gambar). Namun, lama kelamaan untung yang diperoleh semakin menipis, seiring semakin rendahnya harga rumput laut. Mereka mengusahakan budidaya gracilaria hanya sekadar untuk melanjutkan hidup saja. Apalagi, banyak dari mereka berstatus pekerja tambak dan kalaupun memiliki tambak, hanya memiliki satu petak tambak saja.

Sedangkan, kawasan udang yang masih konsisten, yaitu Pinrang, pun pelan-pelan di sebagian tempat mengganti komoditasnya. Windu ke Vannamei, sebagai strategi bertahan hidup para pembudidaya di sana. Sebab, Udang windu, dari segala segi sudah dianggap tidak menguntungkan lagi bagi para petambak tradisional. Namun, lama ke lamaan, jika praktek vannamei ini juga tetap dengan konsep eksploitasi seperti saat ini. Tidak menutup kemungkinan, penyakit semakin merajalela. Dan akhirnya petambak mengalah, dan tambaknya pun hanya menjadi sarana budidaya bandeng atau rumput laut, yang harganya masih terbilang rendah.

Opsi lainnya, para pembudidaya, yang keahliannya banyak di bidang perikanan ini pun mencari ladang lain di daerah yang masih potensial atau mencari penghidupan di kota dengan keahlian seadanya.

Jika begitu, aroma udang windu yang begitu lengket itu, akhirnya mulai menghilang dalam radar rasa kita. Anak cucu kita pun tak dapat lagi menikmati udang windu, yang sarat akan nilai gizi, yang berguna bagi kecerdasan mereka.

 

Penulis: Idham Malik

No Response

Leave a reply "Menghilangnya Udang Windu dari Peta Tambak Kita"