Pemberdayaan Terjepit Ekonomi

No comment 74 views

Pemberdayaan masyarakat, seperti yang tinggal di pesisir dan hutan, susah – susah gampang. Biasanya, ketika di awal – awal pemberdayaan, kita memulai dengan penggalian data awal. Namun ini cukup dilematis, karena waktu pendataan yang ringkas, sehingga kadang-kadang data kurang memadai, sehingga dalam pengambilan keputusan, kita lebih banyak dipengaruhi oleh insting, subjektivitas, atau asumsi – asumsi yang belum begitu diuji.

Ada juga yang datang ke masyarakat dengan paket lengkap, sosialisasi, pelatihan, pendampingan, seperti jalur administrasi birokrasi ataupun instruksi militer. Masyarakat dilihat sebagai objek yang dengan gampang dipanggil, dikumpulkan, dan tentu dibayar.

Lalu, kita bingung dengan cara yang paling cocok. Kita bacalah buku-buku pendampingan, mulai dari yang mainstream hingga yang radikal. Kita pun memperoleh inspirasi, bahwa pendampingan itu bukan untuk cari makan. Bahwa kita hanya bisa mempengaruhi, merekalah yang memutuskan untuk berubah. Kita mesti memfasilitasi, memancing sikap kritis mereka, memandu pembuatan strategi, hingga evaluasi.

Lalu kita bergerak, mengumpulkan orang – orang, mempengaruhi satu persatu. Kita melatih, membagi apa yang kita tahu, mencari apa yang tidak kita tahu, memanggil orang – orang yang lebih mengerti untuk memandu kita bersama. Kemudian, orang – orang mulai berfikir, apakah ini mungkin? Apakah itu bisa dilakukan? Apakah ini menguntungkan?

Kita, yang bukan bagian dari mereka, tidak berfikir sejauh itu. Mentok – mentok pikiran kita, ini harus Anda dilakukan, sebab jika tidak akan begini atau begitu. Lalu, kita berharap, mereka akan melakukannya secara mandiri. Mengandaikan masyarakat seperti mesin pembuat kopi, tindis tombol hitam keluar cappucino, tekan tombol hijau keluar americano.

Masyarakat pesisir ataupun hutan, lantas manggut – manggut mendengar kita. Tampaknya mereka tak mau mengecewakan kita juga. Tapi, sebagian dari mereka dengan terang-terangan menolak, tidak mau datang, tak merasa ada faedah untuk bertatap muka. Kita pun sedikit emosi, kita lalu menyalahkan, kita lupa bahwa pada dasarnya kita belum begitu paham keadaan.

Lalu, kita melihat banyak faktor yang mempengaruhi motif mereka. Keterdesakan ekonomi, minimnya modal, keterikatan pada pola lama akibat sistem kontrak yang mengharuskan penggunaan lahan terus menerus, status sebagai pekerja yang terikat pada perintah pemilik modal dan kurangnya insentif yang mereka peroleh dari aktivitas budidaya.

Makanya, betul adagium kapitalis awal, yaitu pengetahuan plus modal, menghasilkan bonus plus pengetahuan baru. Untuk itu, kredit sebagai pintu gerbang kemajuan modal dan pengetahuan.

Kita telah berbagi pengetahuan, walau belum sampai pada level keterampilan tertentu. Namun, masih sulit dalam hal pengelolaan modal. Penyediaan modal beserta permasalahan struktural dalam pengelolaan lahan. Fasilitasi modal ke pihak – pihak perbankan atau pun pemberi pinjaman bagi kita begitu rabun. Apalagi para petambak, nelayan, orang – orang kecil tak begitu meyakinkan para pemilik modal. Konsep mikrokredit ala Moh. Yunus belum begitu dikenal oleh masyarakat pesisir. Sehingga, para petambak masih ada yang terjerumus oleh rentenir atau pengumpul yang menginginkan produk perikanan yang murah dari petambak.

Selain pengetahuan dan modal, hal penting yang ditemukan oleh abad modern, yaitu organisasi. Semakin terorganisir sesuatu, semakin bagus interaksinya, semakin cepat laju produksi, dan semakin menumpuk akumulasi modal dan pengetahuan.

Organisasi ini, yang terlihat begitu formal, yang kebanyakan ditujukan hanya untuk menampung bantuan – bantuan dari pemerintah. Organisasi dibentuk, bukan atas dasar kepentingan bersama, sehingga organisasi sekadar label keanggotaan, dan adanya daftar nama penerima bantuan. Sentralisasi seperti ini perlu direkonstruksi agar pengelolaan lebih bersifat partisipatif, inisiatif warga sendiri. Namun, lahirnya inisiatif dan partisipasi warga di tengah begitu lamanya dicekoki oleh perintah – perintah, memang sulit.

Untuk itu, yang penting adalah adanya agen-agen pembaharu di masyarakat, yang mampu mendorong dan mengajak komunitasnya untuk maju bersama. Selain itu, tidak lama lagi, inisiatif akan melimpah melalui gelombang gairah anak muda. Untuk saat ini berhadapan dengan orang tua, kita sedang menunggu momentum bangkitnya perikanan melalui gerakan anak muda.

 

Interaksi Petambak dengan Fasilitator WWF dan ACC

Selain itu, konsep pemberdayaan bukan lagi dilihat sebagai rangkaian pelatihan, tapi pemudahan akses – akses terhadap sumberdaya, yang berarti bersentuhan langsung pada kebutuhan mereka. Misalnya petambak, akses terhadap benur yang berkualitas, akses terhadap pakan yang baik, akses terhadap pupuk, probiotik, pestisida, hingga akses pada pasar, pusat penelitian, dan lembaga pemerintah. Semakin lancar perputaran informasi, perputaran modal, perputaran bahan – bahan baku budidaya, menunjukkan sistem yang sehat. Selain itu, dalam pendampingan sesedikit mungkin bermanfaat secara langsung, yaitu peningkatan produksi budidaya. Sehingga, mesti dipikirkan cara – cara yang dapat berpengaruh pada peningkatan produksi.

Makanya, mesti dicarikan jalan keluar untuk menjalankan sistem seperti ini. Pertanyaan pertama yang diajukan, Apakah petambak atau nelayan mampu mandiri menjalankan sistem? menyediakan modal, bahan-bahan, pengetahuan yang dapat diputar? Ataukah menunggu, sambil menyiapkan tim lain untuk mendampingi petambak? Yang terlebih dahulu mengambil peran itu. Tim – tim ini, adalah yang sebelumnya disebut tim penggerak, yang merintis, sejak awal survei – survei, menggalang dana untuk penyediaan bahan baku, menjadi media pengatur pengetahuan, sembari terlibat dalam penyediaan pasar. Mereka sebagai tim kecil, bersama petambak merancang masa depan mereka secara bersama-sama.

Surplus yang diperoleh dari sistem ini, dapat dimanfaatkan dengan meretas rantai pemeliharaan yang tidak putus – putus melalui insentif ekonomi bagi petambak yang mau mengeringkan tambaknya, sehingga ada jeda bagi lahan untuk bernafas dan memperbaiki diri. Surplus dapat juga digunakan untuk kegiatan – kegiatan sosial dan perbaikan lingkungan.

Menutup, hal ini sangat ditentukan oleh adanya komitmen dan kerelaan berkorban agen – agen perubahan, baik individu maupun tim. Sebab, semua bermula dari niat baik serta imajinasi yang jelas akan masa depan.

 

 

Idham Malik.

(Telah diĀ postingĀ dalam akun facebook pribadi penulis tanggal 20 Mei 2018)

No Response

Leave a reply "Pemberdayaan Terjepit Ekonomi"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.