Perikanan atau Perikiri?

No comment 160 views

Seekor ikan ataupun kepiting mungkin tak pernah memikirkan sesekali pun, jika ada istilah kanan maupun kiri. Yang dilakoni hanya bergeser ke kanan atau ke kiri, belok kanan atau kiri, atau barangkali tidak mengenal semua itu lantaran luasnya lapang jelajahnya.

Bagi anak perikanan, yang secara defenitif bisa berarti pemuda yang kuliah di jurusan perikanan, atau anak muda yang bergelut di tambak atau di laut, perikanan punya tafsir berlipat – lipat.

Meski begitu, kita pun dapat menyangsikan hal itu, menanyakan ulang secara lebih sederhana? Apakah tafsir kita hanya lebih ke perikanan dan tidak lagi menoleh perikiri?

 

Anak – anak perikanan, baik jaman now maupun jaman old, sibuk membangun karirnya masing-masing. Mengembangkan bisnis perikanan dengan modal sendiri atau utang, memproduksi pangan bergizi untuk dijual ke berbagai kalangan. Sebagian berkarier sebagai penyuluh, mendampingi para petambak ataupun nelayan, yang entah apa sebab-sebabnya begitu sulit untuk didorong. Sebagian lagi di dunia birokrasi, menyusun dan menjalankan program kerja sebagai rutinitas dengan sela-sela panjang untuk menyeruput kopi dan ngobrol lepas. Sebagian kecil meniti jalan sebagai dosen, memproduksi ilmu, menularkannya, sembari mengerjakan project – project kecil untuk tambahan cicilan mobil dll.

Di sisi lain, masyarakat perikanan, yang jumlahnya tak begitu banyak di negeri ini dibanding masyarakat pertanian. Hidup susah – susah ringan, atau dengan kata lebih banyak susahnya dibanding ringannya. Baik petambak maupun nelayan, pasti sering kali merasakan susah, jika mahasiswa sesekali kekurangan, petambak mungkin sudah tak terhitung. Seperti pencuri yang ditanya sudah berapa kali mencuri, tidak mampu menjawab dan hanya bilang, sudah banyak kali.

Di tambah unsur X, yaitu perubahan iklim, yang dulu dapat diatasi dengan perbanyak produksi di musim baik, untuk mengantisipasi musim paceklik. Kini, paceklik datang berkali-kali. Ramalan cuaca jadi tidak berguna, pawang hujan juga sudah tak terdengar lagi fungsinya. Petambak dan nelayan pun hanya uring-uringan meratapi nasib. Dimana mereka mengadu? Terpaksa pada aktor – aktor politik, yang wara wiri jualan program di tahun politik. Kadang-kadang mereka melakukan beli putus dengan pemain politik, karena memang sudah putus harapan dengan program – program sebelumnya. Dan tentu, dana taktis selalu dibutuhkan pada musim paceklik.

Memantau hal itu, masyarakat kita, tampaknya membutuhkan pergeseran perspektif, dari perikanan ke perikiri. Perikanan yang menopang program – program radikal yang mendorong kesejahteraan masyarakat pesisir. Distribusi tanah tambak mesti dipikirkan ulang, dan harus digarap lagi. Saat ini, di banyak wilayah, sebagian kecil orang menguasai sebagian besar tanah. Sehingga penumpukan modal betul-betul hanya terjadi di tangan segelintir orang. Sebagian besar masyarakat petambak berstatus sebagai penyewa tambak dan pekerja tambak, yang ngos-ngosan mengelola lahannya. Gali lubang di musim ini, tutup lubang di musim depan. Sebagian pekerja tambak mendapat persenen sangat sedikit, sehingga harus menutup ekonomi keluarga dengan kerja-kerja samping, menguras tenaga dan waktu bagi keluarganya menjadi kian sempit.

Ketimpangan status kepemilikan lahan ini berpengaruh terhadap manajemen budidaya. Bagi para penyewa dan pekerja, cara berfikirnya lebih bersifat praktis dibanding strategis. Yang diburu adalah kepentingan jangka pendek dibanding jangka panjang. Sehingga, lahan kian lama kian tergerus. Produktivitas menjadi merosot. Penggantian komoditas hanya menunda kemerosotan. Sebab, akumulasi limbah kian lama kian menumpuk, dan tidak ada upaya serius untuk mengatasi persoalan limbah ini.

Ketimpangan ini pun tidak dikelola secara serius mengenai jalan-jalan menuju perbaikan, seperti pembentukan organ-organ kunci untuk mencari jalan solutif. Gerakan-gerakan massa nelayan dan petambak, selalu berbau politis. Kelompok – kelompok tambak selalu diboncengi oleh aktor-aktor politik atau kepentingan sesaat sekadar pembagian bantuan caritas sementara. Gerakan petambak dan nelayan yang sadar masih berada dalam lubang gelap dan tidak menemukan jalan untuk muncul di permukaan.

Para pelaku perikanan skala besar dan teknologi tinggi, justru sebagai pelaku utama penyetor limbah. Limbah pelaku yang sedikit itu, dapat mengalahkan limbah petambak tradisional yang jumlahnya 9 : 1. Tidak ada pula upaya serius untuk menghalangi pelaku pembuang limbah yang tidak bertanggungjawab tersebut.

Betul, bahwa kondisi perikanan saat ini masih bersifat kapitalisme kasar, yang ekstraktif. Bahasa lainnya kapitalisme tabrak lari, yang tentu merusak kehidupan sosial maupun lingkungan. Entah kapan kita dapat melihat sebuah pandangan kapitalisme yang baik hati? Antara pemilik modal dan pekerja yang akur dan saling mengasihi dan mendukung. Boleh dikata praktek – praktek kepengaturan di dunia perikanan belum tampak betul. Pendampingan – pendampingan perikanan yang didukung oleh orang kaya, tidak begitu banyak. Orang kaya yang lahir dari bisnis perikanan, masih berkutat pada upaya untuk menumpuk kekayaan. Membangun kerajaan bisnis mereka sendiri. Kapan kita menanti mereka untuk membagi sebagian kekayaannya untuk sosial dan lingkungan? Apakah ketika bisnis perikanan ini sudah tersendat akibat kerusakan lingkungan? Ataukah ketika mereka dirongrong secara beramai-ramai oleh massa miskin yang diciptakannya.

**
Perikanan dan Perikiri. Saya berfikir, selama ini perikanan tidak kekurangan perspektif. Hanya saja, praktek-praktek perikanan maupun pemikiran perikanan yang kita gunakan saat ini monoton, begitu – gitu saja. Kurang gejolak, minim perdebatan, polemik, belum nampak pertarungan perspektif.

Soekarno pernah mengatakan bahwa, perdebatan dan percakapan yang alot dapat membuahkan pemikiran canggih.

Apakah kita sudah bercakap hari ini? Perikanan atau perikiri? Liberal atau sosialis, atau demokrat?

 

Idham Malik

No Response

Leave a reply "Perikanan atau Perikiri?"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.