Perubahan-Perubahan Budidaya Udang di Tasiwali’e, Suppa, Pinrang

Pada Kamis, 28 Desember 2017 lalu, kami kembali bertemu dengan Baharuddin, Ketua Kelompok Phronima, Desa Tasiwali’e, Kec. Suppa, Kab. Pinrang. Saat itu, Bahar sedang memberi pakan udang vannamei-nya yang berjumlah 70.000 sudah berumur 30 hari, dipelihara dalam tambak seluas empat hektar. Bahar mengeluh sudah begitu sulitnya budidaya udang saat ini. Memang, sejak 4 – 5 tahun terakhir, terjadi perubahan dan dengan begitu pelan membuat para petambak kropos.

Tambak Bahar, luas 4 hektar. Kondisi air jernih atau kurang plankton.

Tambak tersebut baru saja dikontraknya pada pertengahan tahun lalu untuk digunakan selama lima tahun. Pada siklus pertama, Bahar mengalami gagal panen, yang bibit udangnya hanya bertahan 25 hari. Pada siklus kali ini, Bahar sementara berjuang agar udang dapat panen bagus, dengan tantangan hujan yang mengguyur berhari-hari pada Desember, menyebabkan air menjadi jernih akibat sulitnya terbentuk plankton, serta udang yang mudah stress akibat perubahan suhu dan salinitas. Bahkan, Pakan phronima, sejenis organisme crustacea kecil pun sulit tumbuh. Bahar merespon keadaan tersebut dengan pergantian air serta pemberian pakan secara rutin untuk menutupi kekurangan pakan alami.

Padahal, pada 2012 hingga 2014, budidaya udang di kawasan Teluk Pare tersebut sangat menggiurkan. Para petambak, yang rata-rata menebar benur sebanyak 10.000 – 15.000 perhektar dapat memperoleh hasil panen 100 – 250 kilogram/hektar dengan berat antar 20 – 60 gram/ekor atau size 50 – 15 ekor/kilogram. Jika dikonversi ke nilai ekonomi, para petambak mampu mendulang keuntungan 7 – 10 juta persiklusnya.

Itu cerita dulu, ketika kematian udang yang mendadak dan serentak pada 2015 – 2016, yang dipengaruhi oleh faktor cuaca ekstrim serta perubahan kondisi air, hal ini juga disebabkan oleh kondisi benur yang kurang dapat dikontrol kualitasnya, serta secara jumlah mengalami penurunan. Pada tahun-tahun tersebut, para petambak kian kesulitan mencari benur udang windu. Sebagai contoh, hatchery windu yang berjejeran di teluk Suppa, kian beralih ke pembenihan udang vannamei. Makanya, sebagian petambak mulai mencoba budidaya udang vannamei, yang benurnya cukup mudah diperoleh. Budidaya udang vannamei memang sudah dilakukan oleh sebagian petambak di daerah Wiringtasi, yang mendapatkan pembinaan secara intensif dari Balai Penelitian Perikanan Budidaya Air Payau dan penyuluh setempat. Selain itu, Pemkab Pinrang juga punya program untuk memperkenalkan intensifikasi perikanan udang melalui program industrialisasi perikanan. Meski begitu, budidaya udang windu masih tetap berlangsung di Kecamatan lain, seperti Lanrisang, Mattirosompe, Jampu’e, Duampanua, Wakka. Udang windu bertahan, lantaran luas lahan yang luas, 3 – 15 hektar. Sulit bagi petambak untuk menambah intervensi teknologi bagi tambak yang luas.

Sebelum titik kritis tersebut, telah ada upaya untuk menyelamatkan udang windu, yaitu dengan penerapan teknologi pakan alami phronima. Langkah pertama yaitu metode kultur phronima dengan menggunakan dedak fermentasi dicampur pupuk buatan, yang harapannya dapat mengembangkan phronima sebelum penebaran benur tokolan (post larva 20). Fokus perhatian petambak dan pengembang adalah phronima sebagai pendorong, makanya konstruksi tambak yang kurang baik, ketinggian air, keberadaan lumut, keberadaan penyakit, kualitas benur, semuanya dapat diatasi dengan keberadaan phronima. Dan betul, petambak merasakan hal itu.

Udang windu bertahan dalam tambak yang dipenuhi lumut, tapi mengandung phronima.

Langkah berikutnya yaitu dengan mencari format padat tebar yang sesuai dengan ketersediaan phronima rata-rata. Phronima berkembang setelah dikembangbiakkan 20 hari. Dalam pemeliharaan, terkadang phronima habis dalam tambak, sementara udang belum cukup ukuran pasar, yaitu 50 – 20 ekor/kg. Sehingga, menurut petambak, terkadang udang mati karena udang tidak mau makan selain phronima. Makanya, dikembangkan strategi padat tebar rendah, yaitu 7000 – 10.000/hektar, agar phronima tidak habis hingga ukuran udang dapat dijual dengan nilai tinggi. Selanjutnya dibangun konsep bank phronima untuk menjamin ketersediaan stok phronima. Lalu akan diarahkan lagi untuk pengembangan phronima sebagai pakan bibit udang windu. Hal-hal ini dikuatkan dengan adanya sekolah lapang phronima, serta sosialisasi phronima di sekecamatan Pinrang dan lokus-lokus budidaya udang windu di Indonesia.

Phronima, pakan alami udang yang bergizi tinggi.

Namun, hal-hal ini kemudian kurang begitu cocok ketika windu beralih ke vannamei, khususnya di Desa Tasiwali’e dan Wiringtasi. Budidaya vannamei mengharuskan perbaikan infrastruktur dan manajemen budidaya. Budidaya udang vannamei tidak begitu mengandalkan lagi kekuatan alam, tapi mengharuskan intervensi lebih jauh dari manajemen dan pemanfaatan teknologi budidaya perairan. Hal pertama, budidaya udang vannamei biasanya padat tebarnya lebih tinggi, sebelumnya padat tebar 10.000 – 15.000 ekor/hektar menjadi antara 20.000 – 100.000 ekor/hektar. Dengan padat tebar seperti itu, dasar tambak mesti diperdalam serta persiapan lahan tambak, seperti pengangkatan sedimen, pengeringan menjadi lebih lama, pencucian tambak, pengapuran. Penggunaan pakan buatan mulai diatur sesuai dengan pertumbuhan udang. Pengukuran kualitas air mulai dilakukan untuk mengetahui kondisi air dan pengaruhnya bagi pertumbuhan dan kesehatan udang. Penggunaan kincir, listrik, dan pelengkap lainnya, seperti probiotik, pupuk cair, dan bahan-bahan pengurai bahan organik.

Salah satu implikasinya, mekanisme lama dengan penguatan phornima mulai bergeser. Petambak tidak lagi terkonsentrasi untuk penguatan pakan alami, tapi juga penguatan hal-hal mendasar lainnya, untuk pemenuhan aspek internal dan eksternal budidaya, yang dalam hal ini infrastruktur, pengeringan, manajemen air, manajemen pakan, manajemen pencegahan dan pengobatan hama dan penyakit. Meski dalam prakteknya, apalagi dalam tinjauan waktu, mereka masih menerapkan pola tradisional. Kenapa? Karena penggunaan tambak tambak secara beruntun, tanpa jeda yang cukup. Sehingga, agak sulit untuk menghasilkan pakan alami yang normal, dan tetap memproduksi lumut, yang tidak cocok dengan budidaya udang vannamei. Pakan alami berupa plankton yang tidak cukup ini tentu menghambat pertumbuhan phronima, karena pakan dari phronima didominasi oleh plankton. Walaupun, sebenarnya, praktik phronima akan efektif saat udang sudah berumur PL 20, ketika bukaan mulut udang sudah siap untuk memakan phronima. Untuk itu, sejak hari pertama petambak sudah mesti mulai menggunakan pakan buatan.

Budidaya udang vannamei tahun 2015.

Para petambak kembali berbenah diri untuk keluar dari keterpurukan, dengan berupaya mencontoh budidaya udang vannamei di sekitarnya yang sudah sukses. Ada yang berhasil, tapi tidak kurang yang menderita kegagalan. Bagaimana tidak, pengetahuan mereka begitu terbatas mengenai manajemen budidaya udang dengan padat tebar yang lebih tinggi dari kebiasaan sebelumnya. Keberhasilan lebih pada udang vannamei dianggap lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan udang windu dan pertumbuhan udang vannamei lebih cepat dibanding udang windu. Selain itu, ketersediaan pakan alami dan pakan buatan yang cukup bagi udang vannamei. Meski begitu, mitos mengenai nasib keberuntungan masih melekat erat pada alam berfikir masyarakat petambak. Keberhasilan dan kegagalan lebih dari kuasa manusia.

Perubahan ini menuntut perubahan cara berfikir, berimplikasi pada manajemen yang lebih baik. Tapi, tidak semua petambak memiliki kemampuan yang sama dalam menerjemahkan teori dan analisa kasus di lapangan. Selain itu, tidak semua petambak mampu mengatur alokasi waktu dan tenaga mereka dalam mengelola tambak udang vannamei. Sebab, udang vannamei mengharuskan petambak untuk meningkatkan alokasi waktu untuk penjagaan, yang konsekuensinya meningkatnya tenaga yang harus dikeluarkan. Pengaturan waktu dan tenaga ini inti dari modernitas, yang belum begitu dikuasai oleh para petambak. Padahal, jika dikuasai, budidaya udang vannamei bisa lebih hemat. Sebab, dengan pengelolaan satu petak saja, dapat sebanding dengan pengelolaan sepuluh petak udang windu. Dengan hasil yang sama.

Perubahan-perubahan yang demikian cepat ini, tentu saja membuat petambak bekerja keras. Namun,  kerja kerasnya itu pada umumnya belum sebanding dengan hasil yang mereka peroleh. Justru, yang tampak adalah, semakin modern mereka, semakin terjebak dengan lingkar pengetahuan baru, manajemen baru, kerja yang lebih keras, dan tingkat stress yang lebih tinggi. Yang nantinya, jika konsentrasi lebih tinggi, limbah semakin banyak, penyakit kian merajalela. Maka, semakin sulitlah hidup mereka. Walau dalam alam imajinasi, terus dihidup-hidupkan harapan akan perbaikan manajemen, yang berefek pada perbaikan hasil budidaya.

Untuk itu, dibutuhkan keseimbangan lingkungan, sebagai jawaban dari modernisasi budidaya udang. Modernisasi tidak dapat ditolak lantaran merupakan laju kesadaran manusia akan peran pengetahuan dan teknologi untuk menguasai alam. Laju modernisasi yang meningkat mengharuskan kesadaran ekologi yang tinggi pula. Meski kadang, hal ini sangat jarang beriringan dalam pikiran petambak. Selain itu, kesederhanaan, penyesuaian hidup dengan gerak alam, ketenangan yang diperoleh melalui budidaya tradisional tidak dapat dikembalikan lagi. Penemuan masing-masing individu petambak terhadap rasionalisme budidaya dan penerapan ilmu pengetahuan menimbulkan kesenangan dalam bentuk yang lain, yaitu kesenangan akan tantangan pengetahuan, serta pengejaran ekonomi dan hasrat material. Namun, tak dapat dipungkiri, kesederhanaan budidaya udang tradisional itu menutupi relasi sosial yang timpang. Bahwa, ketenangan hanya diperoleh bagi para pengelola tambak yang memiliki tambak luas. Budidaya udang dilakukan secara sambilan dengan yang lain. Budidaya udang dilakukan sebagai bentuk hobi, yang menghasilkan produk makanan. Sedangkan, bagi pekerja tambak tradisional, kesederhanaan budidaya tidak menghilangkan kegelisahannya akan pemenuhan kebutuhan ekonomi primer.

Pada siklus kali ini, Bahar harap-harap cemas, tambak yang dikontraknya seharga 70 juta dalam lima tahun itu kian memeras otak. Sebelumnya, Bahar lebih pada sebagai pengawas tambak, namun dirasanya tidak dapat berkembang jika hanya sebagai pengawas tambak. Meski begitu, perubahan lingkungan, kualitas air dan kualitas bibit, menjadi tantangan tersendiri bagi Bahar untuk bertahan hidup dari usaha budidaya udang.

Idham Malik

No Response

Leave a reply "Perubahan-Perubahan Budidaya Udang di Tasiwali’e, Suppa, Pinrang"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.