Refleksi atas Tambak Ujicoba Kelompok Phronima Pinrang

Pada 4 Desember 2017 lalu, Kelompok Phronima melakukan panen tambak ujicoba dengan tergesa-gesa, yaitu dalam usia pemeliharaan 50 hari. Penebaran benur udang vannamei sebanyak 20.000 dengan size 10 dilakukan pada 14 Oktober 2017. Hasil panen cukup mengecewakan, karena hanya 34 kilogram, dengan size kecil antara 150 – 200 ekor/kg. Jika dikonversi ke nilai ekonomi, hasil panen tidak dapat menutupi biaya produksi yang dikeluarkan.

Panen ini dilakukan dengan pertimbangan udang mulai terlihat mengambang di pinggir pematang sejak 3 November atau setelah 20 hari pemeliharaan. Menurut Zulkarnain, Pendamping Kelompok Phronima, sejak saat itu, udang ditemukan mati 3 – 5 ekor perharinya. Ada kekhawatiran bahwa jika tidak segera dipanen, petambak tidak akan memperoleh udang sedikit pun karena mati semua dalam tambak. Biasanya, jika udang mati sudah ditemukan di pematang, besar kemungkinan sudah banyak udang yang mati di dasar tambak.

Panen udang vannamei tambak ujicoba Kelompok Phronima Pinrang

Kebingungan tersebut diperparah lantaran sulitnya petambak untuk menentukan atau mengestimasi jumlah udang yang ada dalam tambak. Meski diketahui bahwa kemungkinan udang mati dalam tambak tidak akan banyak, lantaran tidak ada tanda udang terkena penyakit, misalnya bintik putih pada karapas udang, atau adanya bakteri vibrio yang ditandai oleh air yang menyala atau seperti terlihat kunang-kunang. Petambak dan pendamping tetap mengambil keputusan untuk panen di usia 50 hari, untuk mencegah kematian yang berlangsung terus menerus.

Udang yang mati di pinggir pematang.

Asumsi yang paling mendekati adalah udang mati dan juga pertumbuhan udang yang sangat lambat lantaran kehabisan energi atau kurang memperoleh asupan pakan. Untuk Tambak tradisional plus, udang mengandalkan pakan alami berupa plankton dan crustacean berukuran kecil, yang disebut phronima. Namun, dalam kenyataan tambak ini tidak terbentuk plankton yang baik, selain itu phronima tidak berkembang dengan baik. Hal ini menimbulkan pertanyaan. Ada apa terhadap tambak tersebut? Sehingga plankton tidak berkembang dan diperparah lagi phronima tidak berkembang, meski telah dilakukan penebaran dedak fermentasi sebagai pakan phronima.

Asumsi awal berdasarkan praktek budidaya dalam kawasan tersebut bahwa dengan penebaran dedak fermentasi sudah dapat memicu berkembangnya phronima dan juga membantu menumbuhkan plankton. Namun, pada tambak tersebut tidak sesuai perkiraan. Dalam praktek budidaya udang secara tradisional di Tasiwali’e – Wiringtasi Pinrang, dalam empat tahun terakhir, para petambak menerapkan dedak fermentasi dan mulai meminimalisir pupuk kimia, sebab orientasi para petambak adalah menumbuhkan phronima, plankton bukan menjadi target utama. Jadi, meski tambak berlumut, tapi mengandung phronima, para petambak sudah senang. Menurut para petambak, lumut dan klekap sebagai tempat hidup phronima. Hal ini sebenarnya baik bagi lingkungan, karena petambak tidak lagi menebar pupuk kimia dalam jumlah banyak.

Namun, sayangnya phronima tidak berkembang, selain itu dedak fermentasi sulit dicerna oleh plankton sehingga dalam sepuluh hari pemeliharaan tidak terbentuk air yang baik, justru yang tumbuh lumut. Padahal, phronima juga mengkonsumsi plankton, berupa chlorella dan skeletonema. Dalam kondisi itulah benur ditebar, pada tanggal 14 Oktober 2017. Benur dengan ukuran masih sangat kecil, yaitu post larva 10, yang bukaan mulutnya belum bisa mengkonsumsi phronima yang ada dalam tambak. Phronima yang diintroduksi sebelumnya dari tambak lain. Pada praktek phronima yang umum berlaku di kawasan, apalagi saat masih budidaya udang windu, benur ditebar berupa benur tokolan, yaitu PL 22 – 25, ketika bukaan mulut sudah besar dan telah dapat mengkonsumsi phronima, phronima juga sudah berkembang dalam tambak setelah kultur selama 21 hari. Jadi, benur tidak dapat mengkonsumsi phronima dan juga tidak mendapat pakan alami plankton yang cukup.

Lumut menguasai perairan tambak.

Untuk itu, pola pikir harus diubah untuk manajemen pengelolaan tambak Kelompok Phronima ini. Pola pikir pertama yang harus dikembangkan adalah teknik menumbuhkan plankton yang tepat dan jangan terlalu bergantung pada phronima, jika kondisi tambak belum memungkinkan untuk menyuburkan phronima. Apalagi, status tambak masih berupa tambak yang belum lama direkonstruksi. Jika model budidaya diterapkan dengan tanpa pupuk kimia, mengharuskan intensifikasi penggunaan karbon selain dedak untuk memacu pertumbuhan plankton, selain intensifikasi penggunaan probiotik RICA di awal pemeliharaan, agar bakteri bekerja untuk merombak unsur hara untuk dapat diserap oleh plankton. Sebelumnya probiotik RICA dilakukan secara berkala dengan interval waktu yang panjang, sehingga plankton kalah bersaing oleh lumut. Kedua adalah menyediakan pakan buatan untuk membantu suplai pakan alami. Ketersediaan pakan tentu akan membantu mempercepat pertumbuhan udang dan mencegah kematian pada udang.

Hal berikutnya adalah menilik ulang persiapan lahan tambak.  Tambak tersebut merupakan tambak yang baru direkonstruksi sejak belasan tahun tidak pernah direnovasi. Perbaikan pematang dan pengangkatan sedimen untuk pembuatan caren baru dilakukan pada 24 Agustus atau 29 hari sebelum pemasukan air tambak. Pengeringan memang dilakukan selama satu bulan, namun mikroorganisme dalam tanah belum mampu mendekomposisi bahan-bahan organik secara baik, lantaran pengeringan tidak begitu sempurna karena masih terdapat lumpur di caren dengan adanya sedikit air tergenang, serta bau tak sedap. Selain itu, tidak dioptimalisasi dengan pencucian air tambak. Pencucian tambak hanya dilakukan dua kali dengan rentang waktu sangat singkat serta tidak dilakukan pencucian secara total. Pencucian yang tidak sempurna ini menyebabkan H2S yang terangkat dari dasar tambak tidak tercuci dari dasar tambak, yang dapat menimbulkan racun, selain itu amoniak dalam air dan tanah juga tidak tercuci. Keberadaan amoniak ini, yang dibuktikan oleh hasil laboratorium, sebagai pemicu tumbuhnya lumut, lantaran plankton tidak dapat menyerap hara dari amoniak, sebelum dirombak menjadi nitrat.

Selain itu, penerapan pupuk kascing (kotoran cacing) sebagai pupuk dasar, dengan komposisi 600 kilogram untuk 0,7 hektar tambak belum terlihat efisien dalam perbaikan dasar tambak dan memungkinkan pertumbuhan plankton dan phronima. Dalam dua kali percobaan, pupuk kascing lambat bereaksi. Pupuk kascing terbukti efektif untuk tanaman darat, namun untuk lahan tambak yang dilalui pasang surut air tambak yang berasal dari laut, mengandung unsur-unsur makro dan mikro, belum tentu seefektif untuk tanaman darat.

Faktor lain yang menyebabkan pertumbuhan udang yang lambat yaitu factor cuaca, dimana pada November kondisi salinitas yang tinggi, di atas 30 ppt, dapat menyebabkan udang stress, serta seringnya hujan tiba-tiba yang dapat menurunkan kualitas air tambak.

Secara umum, ujicoba pertama ini menunjukkan hasil yang tidak terlalu buruk, karena akar persoalan bukan karena serangan penyakit udang, tapi pada manajemen air, pakan, dan persiapan lahan, yang jika diperbaiki dapat meningkatkan pertumbuhan udang dan daya hidup udang.

Demikianlah penjebaran sederhana terhadap pelaksanaan tambak Kelompok Phronima, sebagai refleksi untuk perbaikan budidaya udang ke depan.

Idham Malik

No Response

Leave a reply "Refleksi atas Tambak Ujicoba Kelompok Phronima Pinrang"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.